Pertumbuhan impresif ini didorong oleh strategi optimalisasi produksi, pengelolaan modal kerja yang disiplin, serta moncernya penjualan domestik yang mencapai 96% dari total pendapatan perusahaan.
Dominasi Emas dan Kebangkitan Nikel
Produk emas masih menjadi "tulang punggung" utama pendapatan ANTAM dengan kontribusi mencapai 80% dari total penjualan. Sepanjang enam bulan pertama tahun 2026, nilai penjualan emas mencapai Rp50,39 triliun dengan volume penjualan sebesar 18.080 kg (581.286 troy oz).
Baca Juga: Harga Emas Pegadaian 28 Agustus 2026: Kompak Merosot, Antam 1 Gram Kini Rp2,7 Jutaan
Tak kalah berkilau, segmen nikel (feronikel dan bijih nikel) mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 32%, menyumbang Rp10,41 triliun bagi kantong perusahaan. Sementara itu, segmen bauksit dan alumina juga menunjukkan tren positif dengan kontribusi Rp1,88 triliun, naik 28% secara tahunan.
Fundamental Keuangan yang Kian Kokoh
Bukan hanya soal laba, "kesehatan" keuangan ANTAM juga terlihat dari saldo kas dan setara kas yang mencapai Rp9,23 triliun. Total aset perusahaan kini menembus angka Rp61,27 triliun, tumbuh 27% dibandingkan posisi semester I-2025.
Direktur Utama ANTAM, Untung Budiharto, menyatakan bahwa pencapaian ini adalah hasil dari penguatan kinerja operasional dan disiplin keuangan yang konsisten.
"Pencapaian ini menjadi landasan bagi ANTAM untuk terus meningkatkan kinerja melalui penguatan beyond operational excellence, sehingga perusahaan dapat semakin unggul, adaptif, dan mampu menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan," ujar Untung dalam keterangan resminya.
Efisiensi dan Strategi Masa Depan
Kenaikan laba bersih ini juga diikuti oleh pertumbuhan Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) yang naik 35% menjadi Rp9,62 triliun. Hal ini mengindikasikan bahwa ANTAM semakin efisien dalam mengelola biaya operasionalnya.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko ANTAM, Arini Kasmira, menambahkan bahwa fokus perusahaan saat ini adalah memastikan profitabilitas tersebut dapat dikonversikan menjadi arus kas yang sehat.
"Didukung posisi likuiditas yang tetap terjaga dan portofolio komoditas yang terdiversifikasi, ANTAM memasuki paruh kedua 2026 dengan fundamental yang kokoh untuk memenuhi kebutuhan operasional dan agenda pertumbuhan jangka panjang," tegas Arini.
Dengan capaian laba bersih per saham dasar yang naik ke angka Rp265,85, para pemegang saham ANTM tentu punya alasan kuat untuk tetap optimis menatap sisa tahun 2026.