Ekonomi Iran Terancam Kolaps Akibat Tekanan Amerika Serikat

August 2026 · 2 minute read

Para pemimpin Iran mulai memperingatkan semakin beratnya tekanan ekonomi akibat perang, di tengah upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperketat tekanan terhadap Teheran.

HUT RMOL news

Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahkan menyerukan agar perang segera diakhiri. Ia mengatakan blokade maritim telah menghambat impor dan ekspor Iran, sementara pemerintah mulai kesulitan memenuhi sejumlah kewajiban kepada pekerja, pensiunan, dan pegawai negeri.

“Lebih baik mengakhiri perang hari ini, ketika kita kuat dan dihormati dan seluruh dunia mengakui kemenangan kita,” kata Pezeshkian, dikutip dari Iran International, Sabtu 22 Agustus 2026.

Pezeshkian juga mengakui pemerintah Iran menghadapi keterbatasan keuangan. Menurutnya, masyarakat harus memahami bahwa perang membawa konsekuensi ekonomi yang semakin berat.

“Pemerintah menghadapi kendala keuangan. Saat kita meneriakkan slogan, kita juga harus menerima kesulitan yang menyertainya,” ujarnya.

Peringatan serupa disampaikan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf saat berada di Baghdad. Ia menegaskan bahwa kekuatan militer saja tidak cukup untuk mempertahankan Iran jika kondisi ekonominya terus memburuk.

“Seberapapun besar kekuatan militer yang kita miliki, jika rakyat kelaparan dan kita tidak memiliki peredaran keuangan, pertumbuhan ekonomi, dan produksi dalam negeri, kita tidak akan bertahan,” kata Ghalibaf.

Pernyataan tersebut sejalan dengan tekanan yang sedang dibangun Washington. Trump menyebut langkah ekonominya terhadap Iran sebagai “operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun” dan mengancam negara, perusahaan, serta lembaga keuangan yang masih membantu Teheran.

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan tekanan ekonomi kini menjadi salah satu alat utama Washington. Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menyatakan Amerika akan menerapkan sanksi yang disebutnya sebagai “sanksi terberat dalam sejarah”.

Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menolak klaim bahwa tekanan tersebut akan berhasil. Ia mengatakan kampanye Trump akan gagal seperti kebijakan tekanan ekonomi AS sebelumnya.

“Pasti gagal. Kita sudah pernah melihat film ini sebelumnya,” tulis Araghchi di X.

Tekanan ekonomi Iran semakin terlihat dari aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz. Data awal Kpler menunjukkan hanya tujuh kapal komoditas yang melintasi selat tersebut pada Kamis, 21 Agustus. Jumlah itu sekitar setengah dari hari sebelumnya.

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.