Dokter: kesemutan dan baal merupakan gejala awal gangguan saraf tepi - ANTARA News Bangka Belitung

August 2026 · 2 minute read

Tangerang (ANTARA) - Dokter spesialis anestesiologi dan terapi intensif Siloam Hospitals dr. Andreas Willianto mengatakan gangguan saraf tepi biasanya dimulai dari merasakan baal, kesemutan, rasa seperti tersetrum, kelemahan atau gangguan gerak pada area leher, bahu, lengan, tangan, maupun tungkai.

Ia mengatakan keluhan pada bahu dan lengan dapat berkaitan dengan gangguan saraf tepi seperti cedera saraf akibat trauma, gangguan pada pleksus brakialis, penjepitan saraf, nyeri saraf kronis, maupun tumor saraf tepi.

"Keluhan pada saraf tepi memerlukan pemeriksaan menyeluruh untuk menemukan cedera saraf. Sebab gangguan saraf tepi dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk beraktivitas dan hidup mandiri," kata dr. Andreas Willianto di Tangerang, Kamis.

Perlu diketahui saraf tepi adalah saraf yang menghubungkan otak dan sumsum tulang belakang dengan berbagai bagian tubuh. Jaringan ini membawa rasa sentuhan, panas, dingin, dan nyeri, sekaligus meneruskan perintah untuk bergerak.

"Bila saraf mengalami tekanan atau cedera, penghantaran sinyal tersebut dapat terganggu," ujarnya.

Kepala Staf Medik Fungsional Neuroscience Siloam Hospitals dr. Ferry Senjaya menambahkan salah satu penanganan saraf tepi adalah Peripheral Nerve Surgery atau bedah saraf tepi dengan prosedur operasi untuk memperbaiki, melepaskan, menyambungkan atau mengalihkan saraf yang mengalami kerusakan di luar otak dan sumsum tulang belakang.

"Pada kondisi tertentu, saraf dapat diperbaiki melalui operasi mikro dengan menyambungkan kembali ujung saraf, menggunakan nerve graft/conduit dan melakukan neurolysis untuk membebaskan saraf yang terjepit," katanya.

Dokter spesialis kedokteran fisik & rehabilitasi, dr Theresia D. Arini menambahkan rehabilitasi medik bagi pasien alami gangguan saraf tepi bertujuan mempertahankan kemampuan yang masih baik dan melatih kembali fungsi yang menurun.

Program kegiatan berupa latihan gerak, penguatan, pengelolaan nyeri, dan latihan aktivitas sehari-hari. Lama latihan ditentukan berdasarkan jenis gangguan, tindakan yang dijalani dan perkembangan pasien.

"Pemulihan saraf tidak selalu berlangsung cepat. Karena itu, sasaran rehabilitasi disesuaikan dengan kondisi pasien dan dievaluasi secara berkala. Fokusnya dapat berubah, mulai dari mengatasi keluhan nyeri, menjaga kekuatan otot dan fleksibilitas sendi hingga memperbaiki postur dan mencapai kemandirian," katanya.

Pewarta: Achmad Irfan
Uploader : Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.