Dokter ingatkan penyandang diabetes rutin periksa mata cegah kebutaan
Selasa, 21 Juli 2026 11:06 WIB
(Kiri-kanan) Patient Advocate T1D, Program Manager Women in Diabetes DIID Anita Permata Sari SE, BBA (Hons), MM, Perwakilan UGM Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, M.Epid, Ph.D., Sp.M, Ketua Umum PERKENI Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD, K-EMD dalam acara forum jurnalis kesehatan yang mengusung tema "Strategi, Aksi, Kolaborasi Mencegah Kebutaan Akibat Retinopati Diabetik" di On3 Senayan, Jakarta Pusat, Senin (20/07/2026). (ANTARA/Vina Ashari)
Jakarta (ANTARA) - Dokter mengingatkan penyandang diabetes agar menjalani pemeriksaan retina secara rutin untuk mencegah retinopati diabetik (RD), komplikasi yang menyerang pembuluh darah retina dan sering berkembang tanpa gejala hingga akhirnya mengancam penglihatan.
Perwakilan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, M.Epid., Ph.D., Sp.M., mengatakan retinopati diabetik merupakan salah satu komplikasi diabetes yang paling sering terjadi, tetapi masih kurang dikenal dibanding komplikasi pada jantung atau ginjal.
"Retinopati diabetik justru salah satu komplikasi yang paling umum terjadi, tetapi banyak pasien menganggap penurunan penglihatan sebagai hal yang wajar karena usia atau diabetes, sehingga datang berobat ketika kondisinya sudah berat," kata Bayu di Jakarta pada Senin.
Retinopati diabetik terjadi akibat kadar gula darah tinggi yang berlangsung lama sehingga merusak pembuluh darah kecil pada retina. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kebocoran atau perdarahan pada retina yang secara bertahap menurunkan kemampuan melihat.
Menurut Bayu, risiko retinopati diabetik meningkat pada penyandang diabetes yang tidak mengendalikan gula darah, memiliki hipertensi, kolesterol tinggi, atau kebiasaan merokok. Semakin lama seseorang hidup dengan diabetes, semakin besar pula risiko kerusakan retina.
Berdasarkan analisis data BPJS Kesehatan, sekitar 5,2 juta penyandang diabetes di Indonesia telah mengalami retinopati diabetik dan sekitar 1,2 juta di antaranya membutuhkan penanganan lebih lanjut seperti terapi laser, injeksi, maupun operasi.
Ia menekankan bahwa retinopati diabetik pada tahap awal hampir tidak menimbulkan gejala sehingga banyak pasien baru memeriksakan diri setelah penglihatan mulai kabur atau menurun.
Karena itu, Bayu mengimbau penyandang diabetes melakukan skrining retina secara berkala meski belum merasakan gangguan penglihatan. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui foto fundus atau foto retina yang kini tersedia dalam berbagai jenis alat, termasuk perangkat portabel.
Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD., K-EMD., mengatakan pengendalian gula darah tetap menjadi langkah utama untuk memperlambat kerusakan retina, namun harus disertai pemeriksaan mata rutin.
Menurut dia, sekitar 70 persen dari lebih 20 juta penyandang diabetes di Indonesia diperkirakan belum mengetahui dirinya mengidap penyakit tersebut sehingga baru terdiagnosis setelah muncul komplikasi.
Retinopati diabetik, kata Bayu, memang tidak dapat dipulihkan sepenuhnya. Namun, jika terdeteksi sejak dini, perkembangan penyakit dapat diperlambat sehingga risiko gangguan penglihatan berat hingga kebutaan dapat ditekan.