Pada saat yang sama, nilai transaksi atau gross merchandise value (GMV) tumbuh 14%, sementara jumlah produk lokal yang terjual mencapai 700 juta produk atau naik 51%.
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa kanal digital semakin berperan dalam proses bisnis UMKM, terutama untuk mempertemukan produk dengan konsumen yang sebelumnya sulit dijangkau secara langsung.
Baca Juga: Kenapa UMKM Sulit Dapat Kredit Bank? Ini Penjelasan OJK
Temuan itu sejalan dengan studi Bank Indonesia (BI) mengenai Indeks Adopsi Digital Nasional yang melibatkan 10.142 usaha ultra mikro, mikro, dan kecil di 34 provinsi. Studi tersebut menemukan bahwa adopsi digital berkaitan positif dengan kinerja usaha, inovasi, literasi keuangan, dan inklusi keuangan.
Dalam kajian tersebut, BI mengukur adopsi digital melalui sejumlah proses bisnis, antara lain pengadaan secara elektronik, sistem point of sale (POS), pemasaran digital, e-commerce, dan pembayaran digital.
Hasilnya juga menunjukkan masih terdapat perbedaan tingkat adopsi antardaerah yang dipengaruhi karakteristik pelaku usaha, lingkungan bisnis, kualitas infrastruktur, hingga faktor budaya.
Artinya, tantangan digitalisasi UMKM bukan lagi hanya soal apakah pelaku usaha sudah masuk ke platform digital. Persoalan berikutnya adalah bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja dan membuat usaha lebih mampu bertahan serta berkembang.
Bagi pelaku UMKM, salah satu manfaat paling langsung dari perdagangan digital adalah terbukanya akses terhadap konsumen di luar wilayah tempat usaha berada.
Hal tersebut tercermin dari pengalaman Apelicious, brand camilan sehat asal Malang yang berdiri sejak 2018. Pemilik Apelicious, Lisa Amalia mengatakan pemanfaatan fitur seperti LIVE Shopping, Flash Sale, serta kolaborasi dengan kreator dan afiliator membantu produknya menjangkau konsumen di berbagai wilayah Indonesia.
"Sebagai brand lokal yang tumbuh dari Malang, #BeliLokal membantu Apelicious memperkenalkan produk dan menjangkau konsumen di berbagai wilayah Indonesia, dari Aceh hingga Papua," kata Lisa dalam konferensi pers Perayaan Kolaboraasi #Belilokal di Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Menurut dia, perluasan pasar tersebut tidak hanya berdampak terhadap penjualan. Pertumbuhan usaha juga membuka peluang bagi hampir 120 karyawan lokal serta kerja sama dengan petani buah dan sayur di sejumlah wilayah.
"Melalui program #BeliLokal dari Tokopedia dan TikTok Shop, kami tidak hanya dapat meningkatkan visibilitas dan penjualan, tetapi juga membangun bisnis secara berkelanjutan," ujarnya.
Gambaran tersebut penting karena manfaat digitalisasi UMKM tidak berhenti pada transaksi antara penjual dan pembeli. Ketika permintaan meningkat, dampaknya dapat menjalar ke rantai pasok, tenaga kerja, hingga produsen bahan baku di daerah.
Bank Indonesia sendiri dalam berbagai program pengembangan UMKM juga menempatkan penguatan daya saing, akses keuangan, serta literasi dan inklusi keuangan sebagai bagian dari pengembangan UMKM secara menyeluruh.
Tokopedia dan TikTok Shop menyatakan #BeliLokal kini tidak hanya ditempatkan sebagai kampanye penjualan pada periode tertentu, tetapi dikembangkan sebagai ekosistem yang berjalan sepanjang tahun.
Pendekatan tersebut mencakup edukasi digital, pendampingan usaha, pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), peningkatan pemahaman mengenai Hak Kekayaan Intelektual (HKI), hingga pemanfaatan konten video, LIVE Shopping, kreator, dan afiliator.
Hingga kini, perusahaan menyebut lebih dari 4.800 UMKM, kreator, dan affiliate telah mengikuti berbagai program edukasi #BeliLokal. Mayoritas peserta berasal dari luar Jabodetabek, sementara sekitar separuh pelatihan digelar di luar Pulau Jawa.
Data tersebut menjadi salah satu indikator penting karena persoalan digitalisasi UMKM Indonesia bukan hanya mengenai akses terhadap platform, tetapi juga kesenjangan kemampuan dalam memanfaatkannya.
Studi BI menunjukkan kualitas infrastruktur dan lingkungan usaha menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tingkat adopsi digital antardaerah. Karena itu, peningkatan kapasitas pelaku usaha menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses digitalisasi.
Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, Maman Abdurrahman mengatakan pengembangan UMKM tidak cukup hanya dilakukan dengan membuka akses pasar.
"Mendukung UMKM tidak cukup hanya dengan membuka akses pasar. Pemberdayaan yang sesungguhnya adalah ketika pelaku usaha juga memperoleh pendampingan, peningkatan kapasitas, akses terhadap legalitas usaha, serta kesempatan untuk membangun jejaring dan berkolaborasi," kata Maman.
Menurut dia, kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta diperlukan agar pelaku UMKM dapat meningkatkan daya saing dan menghadapi perubahan di era digital.
"Saya melihat semangat itulah yang dihadirkan melalui Perayaan Kolaborasi #BeliLokal hari ini. Bukan sekadar sebuah perayaan, tetapi sebuah ruang kolaborasi yang menghadirkan solusi nyata bagi UMKM Indonesia untuk terus tumbuh dan naik kelas," ujarnya.
Baca Juga: Bukan Cuma Modal, Ini Strategi Pemerintah Besarkan UMKM
Perubahan pola konsumsi digital juga membuat pelaku usaha tidak lagi hanya mengandalkan konsumen yang secara aktif mencari produk. Produk dapat diperkenalkan melalui konten, siaran langsung, maupun rekomendasi kreator sebelum konsumen melakukan transaksi.
Dalam studi perusahaan pada 2025, sebanyak 72% pelaku usaha yang disurvei menyatakan berhasil menjangkau pelanggan baru melalui TikTok Shop. Sebanyak 67% menyebut berhasil meluncurkan produk baru, sementara 52% mengatakan dapat memperkuat diferensiasi usaha melalui Discovery Commerce.
Model tersebut membuat kemampuan membuat konten dan berinteraksi dengan konsumen menjadi bagian dari aktivitas perdagangan digital.
Bagi brand kecantikan Facetology, misalnya, penggunaan konten, LIVE Shopping, dan kolaborasi dengan kreator disebut membantu meningkatkan visibilitas produk sekaligus memperoleh masukan langsung dari konsumen.
"Kami percaya brand lokal dapat bersaing dan berkembang melalui inovasi yang berangkat dari riset dan pemahaman terhadap kebutuhan konsumen," kata Group Brand Manager Facetology Satrio Arief.
"Dukungan program #BeliLokal di Tokopedia dan TikTok Shop membantu kami menjangkau lebih banyak konsumen melalui berbagai format konten dan interaksi, sekaligus membangun komunitas dan mendapatkan masukan secara langsung," lanjutnya.
700 Juta Produk Lokal Terjual
Dari sisi transaksi, perusahaan mencatat jumlah produk lokal yang terjual melalui kampanye #BeliLokal mencapai 700 juta produk. Angka tersebut meningkat 51% dibandingkan periode sebelumnya.
Pertumbuhan juga tercatat pada sejumlah kategori. Penjualan kategori fesyen meningkat 22%, FMCG tumbuh 12%, sementara kategori gaya hidup dan otomotif juga mencatat pertumbuhan positif.
Nilai transaksi atau GMV secara keseluruhan meningkat 14%.
Di sisi jumlah penjual, partisipasi dalam #BeliLokal meningkat 50% dibandingkan semester pertama 2025.
Namun, angka-angka tersebut tetap perlu dibaca sebagai data kinerja kampanye dari perusahaan, bukan sebagai gambaran keseluruhan kondisi UMKM nasional. Cakupan program dan metodologi penghitungan GMV perusahaan berbeda dengan statistik resmi pemerintah mengenai kinerja UMKM secara nasional.
Dengan demikian, nilai penting dari perkembangan tersebut bukan semata-mata besarnya transaksi yang tercatat dalam satu ekosistem, melainkan bagaimana kanal digital digunakan untuk mempertemukan usaha kecil dengan pasar yang lebih luas.
Perkembangan perdagangan digital membuat pelaku usaha memiliki lebih banyak pilihan untuk menjual produknya. Namun, masuk ke platform tidak otomatis membuat sebuah UMKM mampu bertahan atau meningkatkan skala usahanya.
Studi BI menunjukkan tingkat adopsi digital masih berbeda antarwilayah dan dipengaruhi sejumlah faktor struktural. Karena itu, digitalisasi perlu diikuti dengan peningkatan kemampuan bisnis, infrastruktur, literasi, dan akses pembiayaan.
Arah tersebut juga terlihat dalam program pengembangan UMKM BI pada 2026 yang mencakup penguatan kapasitas kewirausahaan, pendampingan usaha, inovasi produk, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar ekspor.
Executive Director Tokopedia & TikTok Shop Indonesia ,Stephanie Susilo mengatakan penguatan ekosistem menjadi penting agar pelaku usaha tidak hanya memperoleh akses terhadap konsumen, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengembangkan bisnis.
"Kami percaya setiap UMKM Indonesia memiliki potensi untuk terus berkembang apabila didukung oleh kapabilitas yang tepat, peluang untuk lebih mudah ditemukan oleh konsumen, serta ekosistem yang kuat," kata Stephanie.
Menurut dia, kolaborasi dengan pemerintah, kreator, mitra, dan masyarakat akan terus diperkuat melalui #BeliLokal.
"Semakin banyak pelaku usaha lokal dapat naik kelas, membangun bisnis yang lebih berdaya saing, dan tumbuh secara berkelanjutan," ujarnya.