Detik-detik Penyelamatan Mojtaba dari Serangan Bom AS-Israel Terungkap

September 2026 · 2 minute read

Jakarta, CNN Indonesia --

Detik-detik penyelamatan pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dari serangan bom oleh Amerika Serikat dan Israel Februari lalu, terungkap.

Peristiwa itu diungkapkan oleh Mohsen Heydari, anggota Majelis Pakar Iran, saat diwawancara jaringan televisi Qatar Al Araby pada hari Kamis (24/9) yang kemudian dikutip sejumlah media, termasuk New York Times dan Gulf News.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Heydari, Mojtaba berhasil ditarik dari reruntuhan sebuah rumah sakit di Teheran setelah terkena serangan bom dari Israel dan AS.

Kondisi Mojtaba kala itu, kata Heydari, terluka dan dibawa ke rumah sakit. Tetapi fasilitas di rumah sakit pun kemudian menjadi sasaran bersama dengan dua rumah sakit lain di Teheran.

"Bahkan setelah dia terluka dan dibawa ke rumah sakit, tiga rumah sakit di Teheran dibom," kata Heydari, dikutip New York Post.

[Gambas:Video CNN]

Dia menambahkan bahwa Mojtaba berada di rumah sakit ketiga dan harus ditarik dari reruntuhan.

Pemimpin tertinggi berusia 56 tahun itu kemudian dipindahkan ke lokasi yang dirahasiakan dan belum pernah muncul di depan umum atau berbicara di depan umum sejak saat itu. Kondisinya tetap menjadi subjek spekulasi setelah serangan tersebut.

Heydari juga memberikan rincian tentang proses yang mengarah pada pemilihan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi Iran pada 8 Maret.

Pengeboman di Kota Qom

Majelis Pakar, badan yang bertanggung jawab untuk memilih pemimpin tertinggi, juga terkena dampak serangan tersebut. Menurut New York Post, sekretariat badan tersebut di Qom dibom, menewaskan delapan orang dan menghancurkan dokumen yang berisi laporan dan rekomendasi terkait pemilihan kepemimpinan.

Saat majelis diserang, para anggota dilaporkan mencatat suara mereka di atas kertas sebelum dibawa ke lokasi yang aman untuk proses seleksi

Heydari mengatakan bahwa dialah anggota pertama yang mengusulkan nama Mojtaba Khamenei. Dia mengatakan kepada Al Araby bahwa para anggota telah menerima informasi yang menunjukkan bahwa Khamenei cukup sehat untuk memimpin dan memenuhi persyaratan agama dan kepemimpinan untuk posisi tersebut.

Khamenei dilaporkan memperoleh 50 dari 59 suara yang diberikan. Delapan anggota memilih Ayatollah Alireza Arafi, sementara satu abstain.

Heydari mengatakan bahwa Khamenei tidak mengetahui bahwa dia telah terpilih sampai keputusan itu diumumkan di televisi pemerintah Iran.

Heydari menggambarkan Khamenei sebagai "sosok yang berada di balik bayangan," dan mengatakan bahwa ia sebelumnya tidak pernah memegang posisi politik formal di pemerintahan Iran. Namun, ia dilaporkan pernah menjabat sebagai penasihat ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.

New York Post juga melaporkan bahwa masih ada pertanyaan mengenai kondisi Mojtaba Khamenei saat ini. Itu mengacu pada penilaian intelijen AS yang menyebut bahwa ia menderita cedera wajah parah dalam serangan tersebut.

(imf/bac)