Demi Jadi Bos BYD, Anggota Parlemen Hongaria Pilih Mundur dari Jabatannya

July 2026 · 3 minute read

Jakarta -

Mantan Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Hongaria, Peter Szijjarto, resmi mengundurkan diri dari kursi parlemen untuk bergabung dengan produsen mobil listrik asal China, BYD. Langkah tersebut menjadi sorotan karena Szijjarto meninggalkan karier politik yang telah dijalaninya selama lebih dari dua dekade demi menempati posisi strategis di salah satu perusahaan otomotif terbesar dunia tersebut.

Dikutip dari Carnewschina, pengumuman itu disampaikan langsung oleh Szijjarto melalui akun Facebook pribadinya pada 15 Juli 2026. Politikus berusia 47 tahun tersebut mengaku akan memulai babak baru dalam kariernya dengan mengemban jabatan internasional di BYD.

"BYD adalah salah satu perusahaan paling sukses di industri otomotif selama 20 tahun terakhir dan pemimpin global dalam manufaktur kendaraan energi baru," buka Szijjarto.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia juga mengungkapkan jabatan barunya di perusahaan asal Shenzhen tersebut. "Mulai hari ini, saya akan menjabat sebagai eksekutif yang bertanggung jawab atas hubungan eksternal grup dan perluasan lini bisnis baru," lanjutnya.

Szijjarto merupakan sosok yang cukup berpengaruh di Hongaria. Ia menjadi anggota Majelis Nasional sejak 2002, sebelum dipercaya menjabat Menteri Luar Negeri dan Perdagangan mulai 2014 hingga Mei 2026.

Kepindahan Szijjarto dinilai semakin mempertegas eratnya hubungan antara Hongaria dan China, khususnya di sektor kendaraan listrik. Dalam beberapa tahun terakhir, Hongaria memang menjadi salah satu tujuan utama investasi industri otomotif China di Eropa.

BYD sendiri mulai membangun pabrik mobil listrik pertamanya di Eropa yang berlokasi di Szeged, Hongaria selatan, pada 2024. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 300.000 unit kendaraan per tahun.

Tak hanya itu, pemerintah Hongaria dan BYD juga telah menandatangani perjanjian kerja sama strategis yang mencakup pembangunan kantor pusat BYD untuk kawasan Eropa di Budapest, sekaligus pusat penelitian dan pengembangan (R&D) baru.

Saat penandatanganan kerja sama tersebut, Perdana Menteri Hongaria saat itu, Viktor Orbán, menilai industri otomotif tengah memasuki era transformasi besar. Menurutnya, dominasi China dalam teknologi kendaraan listrik membuat kemitraan dengan BYD menjadi peluang penting untuk memperkuat ekonomi Hongaria.

Pada April 2026 lalu, Perdana Menteri Magyari kembali menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung investasi perusahaan-perusahaan kendaraan listrik asal China.

"Kami berharap dapat menjadikan perusahaan lokal Hungaria sebagai mitra BYD, CATL, dan investor besar lainnya. Saya yakin kita pasti akan mampu mencapai kerja sama yang saling menguntungkan," ujarnya.

Selain BYD, sejumlah perusahaan besar dalam rantai pasok kendaraan listrik China juga telah menanamkan investasi di Hongaria. Produsen baterai seperti CATL, EVE Energy, dan Sunwoda sedang membangun pabrik baterai di negara tersebut. Sementara Nio telah lebih dulu mendirikan fasilitas produksi dan pusat riset untuk stasiun penukaran baterai (battery swap) di kawasan Eropa melalui Hongaria.

Masuknya investasi besar-besaran tersebut membuat Hongaria kini berkembang menjadi salah satu pusat industri kendaraan listrik baru di Eropa, sekaligus memperkuat posisinya sebagai gerbang ekspansi produsen otomotif China ke pasar Benua Biru.

(lua/din)