Dekranasda Bali Cari Solusi Strategis Atasi Minimnya Regenerasi Perajin Endek |Republika Online

October 2026 · 3 minute read

REPUBLIKA.CO.ID, BADUNG, – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Bali tengah mencari solusi strategis untuk mengatasi fenomena krisis regenerasi perajin endek. Tingginya minat masyarakat terhadap kain tenun Bali tidak sebanding dengan jumlah perajin yang kian menipis. Kondisi ini diungkapkan langsung oleh Ketua Dekranasda Bali Putri Suastini Koster di Kabupaten Badung, Jumat.

"Orang mengelu-elukan endek (tenun Bali), tetapi para penenun sampai menyarankan saya untuk buat sekolah tenun, saking tidak maunya anak-anak muda menenun," kata Putri Suastini Koster. Sebagai upaya penyelesaian, pihaknya menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem kerajinan dari hulu ke hilir agar warisan leluhur tetap lestari.

"Jadi, ketika di hilirnya terangkat, di hulu dan di tengahnya harus dijaga, jangan sampai keluar dari koridor sehingga kita bisa kehilangan warisan leluhur kita," ucapnya. Tantangan semakin berat karena Bali kini menghadapi ancaman hilangnya tenaga kerja lokal. Banyak pemesan yang mengalihkan produksi kain ke luar daerah.

Produksi Pindah ke Luar Bali

Dekranasda bersama Pemprov Bali mengetahui bahwa banyak pedagang endek di Bali sudah hampir 25 tahun memesan karyanya di Troso, Jawa Tengah. Proses pembuatan kain pun telah diambil alih oleh mereka. Dampak dari fenomena tersebut membuat anak-anak muda di tingkat akar rumput tidak mau meneruskan profesi orang tua mereka.

Mereka melihat realitas kehidupan perajin yang kurang sejahtera. "Seandainya mereka itu melihat orang tuanya menenun tetapi lalu orang tuanya dapat menyekolahkan dan memberikan kehidupan yang bagus dari menenun, mereka pasti akan melanjutkan," tutur Putri Koster.

Perlindungan Hukum dan Wadah Khusus

Untuk merespons berbagai kendala tersebut, pengawasan ketat serta penegakan regulasi hukum dan hak cipta sangat diperlukan guna melindungi karya asli perajin. "Kalau memang harus kena hukuman, harus kena sanksi ya sanksi bila ada melanggar hak kekayaan, hak cipta," katanya.

Selain itu, solusi konkret lainnya yang ditawarkan adalah membuka wadah khusus bagi para penenun agar mereka dapat kembali berkarya dan memasarkan produk dengan tenang. “Saya bukakan wadah untuk mereka bisa menjual kainnya, lalu mereka menenun kembali, dan di sinilah kehadiran pemerintah memberikan wadah serta mencerdaskan mereka," ujar Putri.

Bali Sebagai Pusat Distribusi Nasional

Untuk menjamin keberlanjutan ekonomi secara makro dan mengatasi masalah pemasaran, ia juga mengusulkan gagasan agar Bali dikembangkan menjadi pusat distribusi nasional. Pasangan orang nomor satu di Pemprov Bali itu melihat Bali potensial menjadi hub utama untuk penjualan kain atau karya kerajinan nasional dari seluruh daerah, sebab Bali memiliki pasar wisatawan.

Dengan ini maka setiap perajin daerah tidak perlu mengambil pelanggan daerah lain hanya karena peminatnya tinggi. Mereka cukup memikirkan karya terbaik inovasi masing-masing dan dapat dijual di Bali.

Upaya kolektif dalam merawat warisan budaya ini diwujudkan lewat penyelenggaraan "Journey of Wastra" oleh Discovery Kartika Plaza bertepatan Hari Batik Nasional. General Manager of Discovery Kartika Plaza Hotel Luis Daniel Garcia menyatakan bahwa kegiatan tersebut dihadirkan sebagai bentuk refleksi dari cerita, tradisi, pengerjaan luar biasa, dan identitas budaya.

"Melalui kreativitas para desainer kami, kami berharap untuk melihat bagaimana warisan ini terus berkembang sambil tetap berakar pada budaya kami," ujar Luis. Rangkaian acara yang berlangsung meriah itu sukses menarik antusiasme pengunjung melalui peragaan busana, lokakarya, dan pameran produk wastra.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara