Dari aroma parfum ke energi hijau dan air bersih desa

August 2026 · 14 minute read

Dari aroma parfum ke energi hijau dan air bersih desa

Jumat, 14 Agustus 2026 07:19 WIB

Image Print

Kevin Liu Perdana, pelajar yang aktif membuat tulisan ilmiah terkait potensi daerah yang diangkat dari permasalahan berbasis lokal. ANTARA/Dokumentasi Pribadi

Sampit (ANTARA) - Kisah inspiratif datang dari seorang belia bernama Kevin Liu Perdana yang memiliki ketertarikan terhadap potensi alam di pelosok Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, hingga dia tergerak menggali dan menuangkannya dalam tulisan-tulisan ilmiah, tentu dengan mengulas tantangan dan gagasan solusinya.

Semua berawal dari rasa keingintahuan yang tinggi terhadap hal-hal baru yang ditemuinya sebagai kekayaan lokal di Bumi Kalimantan Tengah. Bahkan rasa penasaran itu yang kemudian membawanya terjun mengamati, menggali data dan menganalisa masalah hingga ke Kecamatan Tualan Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, kecamatan di wilayah utara yang berjarak sekitar 144 kilometer dari pusat Kota Sampit.

Belia berusia 15 tahun ini tergerak membangun portofolio sains dan keberlanjutan melalui 12 tulisan dan dua proposal proyek berbasis persoalan lokal di Tualan Hulu.

Tidak saja melulu pada sisi kimiawi, tulisan belia yang mengenyam pendidikan TK Tutor Time International Preschool, Pluit - Jakarta (lulus 2017), SD dan SMP Sekolah Bina Cita Utama (BCU School), Palangka Raya (lulus SD 2023 dan lulus SMP 2026) dan saat ini duduk di Kelas 10 di AIIBS Solo ini juga menggali objek dari sisi dampak ekonominya bagi masyarakat.

“Semua ini berawal dari rasa ingin tahu yang berusaha diterjemahkan menjadi ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan yang suatu hari diharapkan dapat diterjemahkan menjadi manfaat nyata,” kata Kevin.

Titik awal perjalanan ini berawal dari rasa penasaran Kevin terhadap parfum. Bagi sebagian pelajar, ketertarikan terhadap parfum mungkin berhenti pada aroma, merek, atau preferensi pribadi. Namun bagi Kevin Liu Perdana, rasa penasaran terhadap fragrance perlahan berkembang menjadi pintu masuk untuk mempelajari sesuatu yang jauh lebih luas yaitu kimia, perilaku molekul, teknik kimia, bahan baku berbasis sumber daya alam, hingga persoalan keberlanjutan.

Dari rasa ingin tahu tersebut, Kevin mulai aktif menulis dan membangun sebuah young scientific portfolio yang mempertemukan Chemistry, Fragrance Science, Chemical Engineering, dan Sustainability.

Portofolio itu bukan sekadar kumpulan tulisan mengenai parfum. Dari waktu ke waktu, arah pembahasannya berkembang dari pengalaman olfaktori menuju sains, proses industri, pemanfaatan sumber daya lokal, ekonomi sirkular, hingga kemungkinan penerapan teknologi untuk membantu menjawab persoalan lingkungan dan masyarakat.

Dalam Portfolio Review 2026, sebanyak 12 tulisan telah teridentifikasi dalam portofolio Kevin. Benang merahnya semakin terlihat: sebuah perjalanan dari curiosity, menuju science, kemudian engineering, sustainability, dan pada akhirnya diharapkan menghasilkan impact.

12 Tulisan, Satu Perjalanan Intelektual

Saat ini sudah ada tulisan yang dihasilkan Kevin. Sebanyak 12 tulisan tersebut memperlihatkan bagaimana minat personal dapat berkembang menjadi narasi akademik yang semakin terarah. Dari parfum, Kevin bergerak menuju kimia, engineering, bahan baku lokal, biodiversitas, circularity, dan sustainability.

Tulisan berjudul "The Story of How I Became OBSESSED with Fragrances". Berisi kisah awal ketertarikan Kevin pada parfum yang berkembang menjadi rasa ingin tahu terhadap chemistry, physics, dan engineering.

Tulisan berjudul "Fragrance Science 101", berisi pengantar ingredients, fragrance notes, struktur aroma, dan dasar sains di balik parfum.

Tulisan berjudul "How Does Perfume Reacts Differently to Different Skin Types?" membahas bagaimana karakteristik kulit dapat memengaruhi aroma dan performa parfum pada setiap orang.

Tulisan berjudul "How Chemical Engineers Help Create Fragrances" berisi ulasan terkait hubungan perfumery dengan chemical engineering, terutama scale-up, efisiensi, keselamatan, dan produksi industri.

Tulisan berjudul "Can Palm-base Oleochemicals Support The Future of Fragrances?" mengeksplorasi potensi oleokimia berbasis sawit untuk fragrance, personal care, dan bahan baku bernilai tambah.

Tulisan berjudul "Reviving Sustainable Patchouli Production Around PT Hutan Sawit Lestari" berisi gagasan pengembangan nilam berkelanjutan, termasuk peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Tulisan berjudul "Exploring the Potential of Agarwood Cultivation on HTR Land in Tualan Hulu" berisi eksplorasi potensi budidaya gaharu dari perspektif ekonomi, lingkungan, dan bahan aromatik.

Tulisan berjudul "Why You Shouldn’t Rub Perfume After Spraying — The Science Explained" terkait penjelasan ilmiah tentang kebiasaan menggosok parfum setelah disemprot dan pengaruhnya terhadap pengalaman aroma.

Tulisan berjudul "Why You Can’t Smell Your Own Perfume Anymore" membahas olfactory adaptation atau olfactory fatigue.

Selanjutnya tulisan berjudul "Why Does Perfume Smell Like Blood, Ice, and Even Credit Cards?" mengulas bagaimana molekul dan persepsi sensorik dapat menghasilkan asosiasi aroma yang tidak biasa.

Sementara itu tulisan berjudul "What The Hell is Bergamot?" mengenalkan bergamot (Citrus bergamia) dan perannya dalam perfumery.

Terakhir, tulisan berjudul "Can Agricultural Waste Become the Future of Perfumery?" membahas kemungkinan pemanfaatan limbah pertanian sebagai sumber bahan aromatik yang lebih sirkular dan berkelanjutan

Kesenangan terhadap parfum bagi Kevin perlahan berubah dari sebuah kegemaran menjadi laboratorium rasa ingin tahu”

Ia mulai bertanya bukan hanya, mengapa sesuatu memiliki aroma tertentu, tetapi juga bagaimana bahan itu diproduksi, dari mana bahan bakunya berasal, bisakah proses produksinya dibuat lebih efisien, dan akhirnya, bisakah teknologi menciptakan manfaat sekaligus bagi industri, lingkungan, dan masyarakat setempat.

Pertanyaan terakhir itulah yang kemudian melahirkan dua gagasan proyek sustainability berbasis persoalan lokal di Tualan Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Kevin Liu Perdana, pelajar yang aktif membuat tulisan ilmiah terkait potensi daerah yang diangkat dari permasalahan berbasis lokal. ANTARA/Dokumentasi Pribadi

Dari Penyulingan Tradisional Menuju Circular Green Energy

Proyek pertama mengangkat “From Traditional Distillation to Circular Green Energy — Transforming Nilam Oil Distillation in Tualan Hulu through Solar Energy and POME-Derived Biogas.”

Yakni, dari penyulingan tradisional menuju energi hijau sirkular — mentransformasi penyulingan minyak Nilam di Tualan Hulu melalui energi surya dan biogas dari POME.

POME adalah singkatan dari Palm Oil Mill Effluent, yaitu limbah cair yang dihasilkan dari proses pengolahan atau ekstraksi minyak kelapa sawit.

Gagasan ini berangkat dari pengamatan terhadap proses produksi dan penyulingan minyak Nilam yang masih menggunakan metode tradisional. Kegiatan tersebut memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Namun dari perspektif sustainability, Kevin melihat sedikitnya dua persoalan energi.

Pertama, sebagian peralatan mekanis masih bergantung pada mesin berbahan bakar diesel. Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil bukan hanya berkaitan dengan emisi, tetapi juga biaya operasi dan ketergantungan terhadap sumber energi tidak terbarukan.

Kedua, proses pemanasan dalam penyulingan masih memanfaatkan kayu bakar. Apabila kebutuhan kayu meningkat dan sumbernya tidak dikelola secara berkelanjutan, praktik tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap vegetasi dan sumber daya hutan di sekitar desa.

Alih-alih melihat keduanya sebagai dua masalah yang berdiri sendiri, Kevin mencoba melihatnya sebagai sebuah sistem.

“One local problem can inspire a global way of thinking," atau satu masalah lokal dapat menginspirasi cara berpikir global.

Solusi pertama yang digagas adalah penggerak listrik bertenaga surya (Solar-Powered Electric Drive). Hal ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada diesel melalui motor listrik yang memperoleh energi dari solar photovoltaic (PV).

Solusi kedua adalah metana yang ditangkap sebagai energi sirkular (Captured Methane as Circular Energy). Gagasan ini memanfaatkan biogas hasil methane capture dari POME sebagai sumber panas proses untuk mengurangi pemakaian kayu bakar.

Kevin menyebut Solar PV atau solar photovoltaic (fotovoltaik surya) yakni teknologi yang mengubah cahaya matahari secara langsung menjadi energi listrik, dapat menjadi transisi energi pada skala produksi desa.

Solusi pertama adalah mengganti secara bertahap penggerak diesel dengan motor listrik yang memperoleh energi dari sistem panel surya atau solar photovoltaic.

Secara konseptual, aliran energinya adalah sinar matahari-solar PV-controller/inverter-motor listrik-peralatan penyulingan.

Energi matahari dengan demikian tidak sekadar menjadi alternatif sumber listrik, tetapi menjadi pintu masuk menuju transisi energi pada skala produksi desa.

POME, methane capture, dan prinsip ekonomi sirkular

Di sekitar wilayah perkebunan dan pabrik kelapa sawit terdapat limbah cair yang dikenal sebagai Palm Oil Mill Effluent atau POME. Dalam proses pengolahan secara anaerobik, material organik di dalam POME dapat menghasilkan biogas yang mengandung metana.

Kevin mengusulkan untuk mengeksplorasi kemungkinan memanfaatkan biogas hasil methane capture tersebut sebagai sumber energi panas bagi proses penyulingan minyak Nilam. Pemanfaatannya tentu memerlukan pengondisian gas, pengukuran, perangkat keselamatan, dan rancangan engineering yang sesuai.

Di sinilah muncul prinsip yang menjadi salah satu identitas gagasan Kevin: “One Action, Multiple Impacts.” Methane capture berpotensi membantu mengelola emisi dari proses pengolahan limbah, sementara energi yang diperoleh dapat digunakan untuk mengurangi ketergantungan terhadap kayu bakar.

Dengan kata lain, limbah dari satu proses industri berpotensi menjadi input energi bagi kegiatan ekonomi masyarakat lainnya. Perspektif tersebut mempertemukan waste management, energi terbarukan, konservasi sumber daya, industri kelapa sawit, dan ekonomi masyarakat desa dalam satu sistem pemikiran.

Dari CSR menuju Creating Shared Value

Kevin menyadari bahwa proyek seperti ini bukan proyek sederhana. Pembangunan sistem panel surya, konversi motor listrik, methane capture, pengondisian biogas, jaringan pipa, burner, perangkat keselamatan, dan modifikasi instalasi membutuhkan studi rekayasa, analisis risiko, perizinan, investasi, serta tenaga profesional.

Oleh karena itu, proyek tersebut secara tegas ditempatkan sebagai concept proposal dan learning portfolio, bukan sebagai proyek yang diklaim siap dibangun secara mandiri oleh seorang pelajar.

Justru di sinilah dimensi kolaborasinya menjadi penting. Kevin melihat kemungkinan kerja sama antara masyarakat penyuling, pemerintah desa, perusahaan perkebunan dan pabrik kelapa sawit, perguruan tinggi, serta para engineer.

Perusahaan memiliki teknologi, SDM, sistem pengolahan limbah, kemampuan rekayasa, dan modal. Sementara masyarakat mempunyai pengetahuan lokal, kegiatan ekonomi, pengalaman produksi, dan kebutuhan nyata.

Apabila keduanya dipertemukan, program keberlanjutan perusahaan berpotensi berkembang dari pola bantuan konvensional menuju creating shared value: pengelolaan dampak lingkungan sekaligus menghasilkan nilai ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar.

Tahap pertama yang realistis bukan langsung membangun sistem dalam skala besar, melainkan melakukan pilot project pada satu unit penyulingan Nilam. Dimulai dari observasi, audit energi, kajian engineering, penetapan baseline lingkungan, desain prototype, implementasi terbatas, monitoring dan evaluasi, kemudian baru dipertimbangkan untuk direplikasi apabila terbukti layak, aman, dan memberikan manfaat.

Kevin Liu Perdana, pelajar yang aktif membuat tulisan ilmiah terkait potensi daerah yang diangkat dari permasalahan berbasis lokal. ANTARA/Dokumentasi Pribadi

Dari Air Sungai Keruh Menuju Sistem Air Bersih Berkelanjutan

Upaya peningkatan kualitas air sungai di Kecamatan Tualan Hulu ini menjadi usulan proyek kedua yang digagas Kevin.

“From Turbid River Water to Sustainable Community Water — A Clean Water Supply System Based on Rainwater Harvesting, Hydram, Solar Pumping, Gravity-Fed Treatment, and a Community Reservoir.”

Proyek ini mengangkat gagasan terkait air sungai keruh menjadi air bersih bagi masyarakat secara berkelanjutan. Sistem penyediaan air bersih berbasis pemanenan air hujan, hydram, pompa tenaga surya, sistem pengolahan gravitasi, dan reservoir komunal.

Jika proyek pertama mempertemukan energi, limbah, dan ekonomi desa, Proyek 2 bergerak menuju kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan manusia yaitu air.

Konsep tersebut mengintegrasikan rainwater harvesting, HYDRAM, pompa tenaga surya, reservoir pada elevasi lebih tinggi, pengolahan air bertahap, serta distribusi berbasis gravitasi.

Ide ini berangkat dari dua persoalan yang diamati di beberapa kawasan perdesaan di Tualan Hulu. Pertama adalah kualitas air. Air sungai yang dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan domestik dapat terlihat sangat keruh. Aktivitas pertambangan tanpa izin di sekitar daerah aliran sungai menjadi salah satu persoalan lingkungan yang menurut proposal tersebut perlu dikaji karena berpotensi memengaruhi kualitas fisik air.

Namun Kevin memberi batasan penting bahwa air yang terlihat jernih belum tentu aman untuk diminum. Jika air akan diperuntukkan sebagai air minum, diperlukan pengujian kualitas air serta sistem pengolahan yang memenuhi standar kesehatan yang berlaku.

Persoalan kedua adalah aksesibilitas dan energi. Sebagian permukiman berada relatif jauh dari badan sungai. Untuk mengalirkan air menuju permukiman atau tempat penyimpanan diperlukan pompa, yang dalam praktik konvensional dapat menggunakan bahan bakar.

Oleh karena itu, pertanyaan yang diajukan Kevin adalah bagaimana masyarakat dapat memperoleh air yang lebih bersih, memindahkannya secara efisien, menyimpannya dengan aman, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pemompaan berbahan bakar fosil? Jawabannya bukan satu alat, melainkan satu sistem.

Menggabungkan air hujan dan air sungai

Konsep pertama adalah dual-source water strategy. Alih-alih sepenuhnya mengandalkan sungai, air hujan dapat dimanfaatkan sebagai sumber tambahan melalui sistem penangkapan dari atap, talang, first-flush device, dan tempat penyimpanan.

Sementara itu, air sungai tetap dapat digunakan sebagai sumber alternatif setelah melalui proses pengambilan, pemompaan, dan pengolahan yang sesuai. Dengan demikian, desa tidak sepenuhnya bergantung pada satu sumber air.

Hydram atau pompa surya

Untuk mengangkat air menuju reservoir, Kevin mengusulkan dua pilihan teknologi. Pilihan pertama adalah Hydraulic Ram Pump atau hydram.

Hydram memanfaatkan energi aliran air dan fenomena water hammer untuk mengangkat sebagian air menuju elevasi yang lebih tinggi tanpa mesin pembakaran atau motor listrik sebagai penggerak utama. Namun teknologi ini tidak dapat dipasang secara sembarangan. Diperlukan debit air, driving head, perbedaan elevasi, kondisi jalur perpipaan, dan delivery head yang memenuhi persyaratan teknis.

Karena itu, prinsip Kevin adalah: “Let the site decide.” Apabila kondisi hidrauliknya memenuhi persyaratan, hydram dapat menjadi pilihan karena membutuhkan energi eksternal yang sangat rendah.

Jika kondisi tersebut tidak tersedia, opsi kedua adalah solar-powered water pump. Sinar matahari dikonversi menjadi listrik melalui panel surya untuk menggerakkan pompa yang mengalirkan air menuju reservoir. Pemilihan teknologi bukan berdasarkan tren, melainkan berdasarkan kondisi geografi, debit, topografi, kebutuhan masyarakat, investasi, keamanan, serta kemampuan operasi dan pemeliharaan.

Konsepnya yaitu rain/river-hydram/solar pump-elevated reservoir- 3 stage treatment-gravity distribution.

"Gunakan energi sekali, biarkan gravitasi melakukan lebih banyak pekerjaan,"

Salah satu ide sederhana tetapi penting dalam Proyek 2 adalah meletakkan reservoir pada lokasi yang secara teknis memungkinkan berada pada elevasi lebih tinggi dan relatif dekat dengan permukiman.

Energi diprioritaskan untuk mengangkat air. Setelah air berada pada elevasi tersebut, gravitasi dimanfaatkan untuk membantu proses pengolahan dan distribusi.

“Use energy once to lift the water. Let gravity do more of the work.”

Tiga tahap pengolahan dari keruh menuju air yang lebih aman

Tahap 1 yaitu Raw-Water Reservoir & Sedimentation. Air baku ditampung untuk memberikan waktu pengendapan sehingga sebagian partikel lebih berat dapat turun dan beban padatan sebelum filtrasi berkurang.

Tahap 2 yaitu Multi-Media Gravity Filtration. Air mengalir dengan gravitasi melalui media yang dipilih berdasarkan hasil pengujian, misalnya kerikil, pasir, ijuk, atau media lokal lain yang sesuai.

Tahap 3 yaitu Polishing, Disinfection & Protected Storage. Untuk penggunaan dengan tuntutan kualitas lebih tinggi, diperlukan polishing/disinfeksi yang sesuai, kemudian penyimpanan terlindungi untuk mencegah kontaminasi ulang.

Air jernih tidak berarti air minum yang aman. Penyaringan menggunakan ijuk, pasir, dan kerikil dapat membantu menurunkan kekeruhan, tetapi tidak boleh otomatis dianggap mampu menghilangkan seluruh risiko mikrobiologi atau kontaminan kimia. Material lokal tetap memerlukan scientific validation.

Satu sistem, banyak manfaat tetapi dampak harus terukur. Jika secara teknis terbukti layak, Proyek 2 berpotensi menghasilkan sejumlah manfaat sekaligus seperti pemanfaatan air hujan, berkurangnya ketergantungan terhadap pemompaan berbahan bakar diesel, penggunaan energi matahari, pemanfaatan energi hidraulik alami, distribusi berbasis gravitasi, peningkatan akses air bagi masyarakat, serta penguatan resiliensi desa.

Namun seperti proyek pertama, Kevin tidak memosisikan gagasan tersebut sebagai desain konstruksi final. Implementasi membutuhkan survei lapangan, pengujian kualitas air, pengukuran debit dan topografi, perhitungan hidraulik, desain sipil, mekanikal dan elektrikal, kajian keselamatan, perizinan, serta partisipasi masyarakat.

Pendekatannya bertahap: Observe → Test → Design → Pilot → Measure → Evaluate → Improve → Replicate. Dampaknya pun harus dapat diukur melalui kualitas air, liter air yang dihasilkan per hari, jumlah rumah tangga yang memperoleh manfaat, penggunaan bahan bakar yang dapat dihindari, energi surya yang dihasilkan, kinerja hydram, waktu yang dihemat masyarakat, serta keandalan sistem sepanjang musim.

“Impact becomes measurable, not merely desirable.”

Kevin Liu Perdana, pelajar yang aktif membuat tulisan ilmiah terkait potensi daerah yang diangkat dari permasalahan berbasis lokal. ANTARA/Dokumentasi Pribadi

Calon peneliti muda yang sedang belajar menghubungkan titik-titik

Kevin Liu Perdana tentu belum seorang engineer profesional ataupun peneliti senior. Justru kesadaran mengenai batas kemampuan itulah yang menjadi bagian penting dari portofolionya.

Dalam kedua proyek, Kevin menyatakan secara terbuka bahwa dirinya belum mempunyai modal, kewenangan, maupun kemampuan teknis untuk secara mandiri menentukan seluruh spesifikasi dan membangun sistem tersebut.

Ia menempatkan dirinya sebagai Observer → Problem Identifier → System Thinker → Concept Developer → Sustainability Advocate.

Posisi tersebut penting. Sebab pendidikan sains pada generasi muda tidak selalu harus dimulai dengan penemuan besar di laboratorium. Ia dapat dimulai dari kemampuan melihat persoalan di sekitar, mengajukan pertanyaan, membaca hubungan sebab-akibat, mengakui apa yang belum diketahui, mencari evidence, dan mempertemukan disiplin ilmu yang berbeda untuk merancang kemungkinan solusi.

Fragrance membawanya kepada chemistry, Chemistry membawanya kepada chemical engineering.

Chemical Engineering membawanya kepada proses produksi dan energi.

Energi membawanya kepada persoalan emisi dan limbah.

Limbah membawanya kepada circular economy.

Sustainability atau keberlanjutan, membawanya kembali pada pertanyaan tentang manfaat ilmu bagi manusia dan lingkungan.

Impact menjadi arah yang ingin dibangun melalui pembelajaran, pengujian, dan kolaborasi.

Itulah identitas akademik yang perlahan sedang dibangun Kevin Liu Perdana—seorang pelajar yang aktif menulis, memiliki ketertarikan pada sains dan engineering, serta mulai menempatkan sustainability sebagai salah satu pusat perhatian dalam perjalanan belajarnya.

Ia belum berada di akhir perjalanan sebagai seorang peneliti. Kevin justru sedang berada di bagian yang mungkin paling penting: membangun fondasi untuk menjadi peneliti muda.

Fondasi itu bermula dari rasa ingin tahu, kemudian tumbuh melalui membaca dan menulis, dipertajam melalui pengamatan terhadap persoalan nyata, dan perlahan diarahkan menuju gagasan yang dapat diuji.

Dari aroma parfum hingga methane capture. Dari oleokimia hingga energi surya. Dari penyulingan minyak Nilam hingga hydram dan air bersih desa. Benang merahnya tetap sama: rasa ingin tahu yang berusaha diterjemahkan menjadi ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan yang suatu hari diharapkan dapat diterjemahkan menjadi manfaat nyata.

“Bisakah kita membuatnya menjadi lebih baik?” ujarnya.

Karena perubahan besar tidak selalu dimulai dari laboratorium atau modal yang besar. Kadang-kadang ia dimulai dari seorang anak muda yang melihat persoalan di lingkungannya dan berani mengajukan pertanyaan yang lebih baik.

Tentang Kevin Liu

Kevin Liu Perdana adalah pelajar kelas 10 yang membangun young scientific portfolio dengan fokus pada Chemistry, Fragrance Science, Chemical Engineering, dan Sustainability. Portofolio 2026-nya menghubungkan rasa ingin tahu ilmiah dengan persoalan nyata melalui tulisan ilmiah-populer dan dua concept proposal keberlanjutan berbasis kondisi lokal di Tualan Hulu, Kalimantan Tengah.

Melalui tulisannya, Kevin menuangkan karya dan proses berpikir. Setidaknya di usianya yang masih sangat muda, dia mencoba berkontribusi terhadap masyarakat dan daerah, saat ini melalui tulisan yang dibuatnya.

Ditegaskan, dua proyek ditulis sebagai concept proposal / learning portfolio, belum sebagai proyek yang telah dibangun atau diimplementasikan.

Implementasi Proyek 1 memerlukan feasibility study, engineering design, risk assessment, perizinan, investasi, dan tenaga profesional. Implementasi Proyek 2 memerlukan pengujian kualitas air, survey debit dan topografi, desain teknis, safety assessment, perizinan, dan partisipasi masyarakat.

Sementara itu, jumlah 12 artikel yang sudah dihasilkan Kevin mengikuti Portfolio Review 2026 dan dapat berkembang seiring pembaruan portofolio.

Pewarta : Norjani
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.