Dari abu Sade ke cahaya Bayan: Jalan kebudayaan NTB

August 2026 · 9 minute read
Tetapi angka tidak pernah cukup menjelaskan sebuah kehilangan kebudayaan.

Mataram (ANTARA) - Ada saat ketika kebudayaan hadir dalam kemeriahan. Orang mengenakan pakaian terbaik, gendang ditabuh, makanan dihidangkan, doa dipanjatkan, dan orang-orang berdatangan dari jauh.

Tetapi ada pula saat ketika kebudayaan hadir sebagai kehilangan.

Dalam sepekan terakhir, saya mengalami keduanya.

Malam 22 Agustus 2026, api melalap Dusun Adat Sade di Desa Rembitan, Lombok Tengah. Kampung yang selama puluhan tahun menjadi salah satu wajah kebudayaan Sasak itu mendadak berubah menjadi hamparan arang.

Pendataan lapangan mencatat sekitar 75 rumah tradisional terbakar. Bersamanya terdampak 69 art shop, delapan lumbung alang, sepuluh berugak, sebuah Bale Beleq, masjid, serta sejumlah fasilitas lainnya. Data pemerintah dan tim lapangan juga mencatat kebakaran berdampak kepada 189 kepala keluarga dan sekitar 320 pelaku pariwisata.

Tetapi angka tidak pernah cukup menjelaskan sebuah kehilangan kebudayaan.

Yang terbakar di Sade bukan hanya kayu, bambu, alang-alang dan barang dagangan. Di dalam rumah-rumah itu tersimpan pengetahuan tentang bagaimana orang Sasak membangun ruang hidupnya; bagaimana rumah ditempatkan, bagaimana lumbung berdiri, bagaimana berugak menjadi ruang perjumpaan, bagaimana perempuan menenun, dan bagaimana satu generasi mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, membangun kembali Sade tidak boleh dimaknai sekadar membangun kembali 75 rumah.

Kita sedang membangun kembali sebuah ekosistem kebudayaan.

Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan agar rekonstruksi dan revitalisasi Sade segera dilakukan. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan bahwa perencanaan rekonstruksi tengah disusun dengan memperhatikan ketangguhan terhadap bencana. Menteri Pariwisata juga mendorong penyusunan rencana jangka panjang yang melibatkan pemerintah, masyarakat adat, perguruan tinggi, kementerian dan lembaga terkait.

Ada satu prinsip yang bagi saya tidak boleh hilang: Sade harus dibangun kembali tanpa kehilangan Sade-nya.

Rumahnya boleh lebih aman terhadap api. Sistem mitigasi bencananya harus lebih baik. Jalur evakuasi, sumber air, proteksi kebakaran dan tata kelola keselamatan perlu diperkuat. Ekonomi masyarakatnya harus bangkit.

Tetapi jiwa kampung itu harus tetap tinggal.

Itulah makna build back better yang sedang kami perjuangkan: membangun kembali dengan lebih baik tanpa mencabut akar kebudayaannya.

Beberapa hari setelah terus berkutat dengan tanggap darurat serta persiapan rehabilitasi dan rekonstruksi Sade, Sabtu pagi, 29 Agustus, perjalanan saya bergeser ke kaki Gunung Rinjani.

Pagi-pagi sekali kami meninggalkan Mataram menuju Sembalun.

Udara berubah semakin dingin ketika jalan mulai menanjak. Pegunungan, ladang dan permukiman muncul silih berganti. Sembalun pagi itu seperti sedang mengajarkan cara lain membaca kebudayaan: bukan melalui benda yang terbakar dan harus dibangun kembali, melainkan melalui tradisi yang masih dijalankan.

Kami datang menghadiri Maulid Adat bersama masyarakat adat Sembalun.

Ada tuan guru, pemangku adat, masyarakat, pemerintah kecamatan dan unsur keamanan. Orang duduk dan berbaur. Tidak banyak panggung. Tidak ada hiruk-pikuk besar.

Justru dalam kesederhanaan itu terasa sesuatu yang penting.

Islam dan adat tidak sedang dipertandingkan.

Agama memberi nilai dan arah. Adat menyediakan ruang sosial tempat nilai itu hidup.

Maulid Nabi Muhammad SAW memperoleh bahasa kebudayaannya melalui doa, silaturahmi, penghormatan kepada orang tua dan pemangku adat, makanan, pakaian, gotong royong dan ingatan bersama.

Sembalun sebenarnya menyimpan ekosistem kebudayaan yang jauh lebih luas. Di sana masih dikenal Ngayu-ayu, Bebija Tawar, pembacaan lontar, Wayang Wong, Tandang Mendet dan berbagai kesenian serta ritual lainnya. Platform desa wisata Kementerian Pariwisata bahkan telah mencatat Maulid Adat Sembalun Bumbung sebagai salah satu paket wisata budaya.

Namun justru di Sembalun saya melihat pekerjaan rumah kita.

Tradisinya hidup. Masyarakatnya memiliki akar. Lanskap alamnya luar biasa. Tetapi beberapa ekspresi budaya masih membutuhkan dokumentasi, kurasi, regenerasi pelaku, penguatan kelembagaan, interpretasi bagi pengunjung dan pengembangan ekosistem ekonomi kebudayaan.

Kita tidak harus tergesa-gesa mengubah setiap ritual menjadi festival.

Sembalun membutuhkan pembinaan sebelum promosi besar-besaran; kurasi sebelum amplifikasi; dokumentasi sebelum komersialisasi.

Sebab ketika sebuah tradisi terlalu cepat dibawa ke pasar, sementara masyarakat pemiliknya belum cukup kuat mengendalikan perubahan, kebudayaan bisa perlahan menjadi pertunjukan yang justru asing bagi pemiliknya sendiri.

Selesai dari Sembalun, kami bergegas menuju Bayan, Lombok Utara.

Gunung Rinjani tetap menjadi penanda perjalanan. Tetapi ketika mendekati Bayan, suasananya berbeda.

Kami datang pada hari terakhir rangkaian Mulud Adat Bayan 2026.

Di sekitar Masjid Kuno Bayan Beleq, orang-orang bergerak mengikuti tata cara yang diwariskan lintas generasi. Ada persiapan nasi ancak, Bisok Meniq, merias Praja Mulud, hingga prosesi Praja Mulud.

Orang membawa hasil bumi. Makanan disiapkan bersama. Warga bekerja bergotong royong. Bahkan hewan ternak dan hasil pertanian yang digunakan dalam rangkaian tradisi berasal dari partisipasi dan nazar masyarakat.

Menjelang sore, ruang di sekitar masjid tua itu semakin hidup.

Kami memilih bertahan hingga menjelang malam.

Bukan semata-mata untuk menyaksikan sebuah event, tetapi untuk merasakan energi sebuah kebudayaan yang masih mempunyai pemilik.

Tahun ini Bayan memasuki fase penting. Untuk pertama kalinya Mulud Adat Bayan masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026.

Itu bukan pencapaian kecil.

Sebelum penyelenggaraan, Dinas Pariwisata Lombok Utara bersama panitia menargetkan sekitar 5.000 kunjungan selama rangkaian kegiatan, termasuk sekitar 500 wisatawan mancanegara. Menjelang puncak acara, pemerintah daerah menyatakan jumlah kunjungan bahkan telah melampaui target tersebut.

Yang menarik bukan hanya jumlah manusianya.

Penginapan dan homestay di Bayan dan Karang Bajo dilaporkan penuh. Rumah-rumah penduduk ikut menjadi tempat menginap. Sebagian wisatawan telah melakukan pemesanan sejak beberapa bulan sebelumnya.

Orang datang, lalu tinggal.

Mereka makan. Membeli. Menggunakan jasa warga. Menyaksikan ritual. Berinteraksi dengan masyarakat.

Di situlah pariwisata budaya mulai mempunyai arti ekonomi yang nyata.

Warung memperoleh pembeli. Homestay terisi. Kerajinan dan produk masyarakat mendapatkan pasar. Pemandu lokal bekerja. Uang wisatawan berputar lebih dekat kepada komunitas pemilik kebudayaan.

Bayan menunjukkan bahwa sebuah tradisi dapat tumbuh menjadi daya tarik pariwisata tanpa harus menyerahkan seluruh kendalinya kepada pariwisata.

Ada batas yang tetap dijaga.

Orang luar datang sebagai tamu.

Adat tetap menjadi tuan rumah.

Inilah pelajaran yang sangat berharga.

Keberhasilan pariwisata budaya seharusnya tidak hanya dihitung dari jumlah pengunjung. Kita perlu bertanya: berapa banyak manfaat yang tinggal pada masyarakat? Berapa anak muda yang kembali mempelajari tradisinya? Berapa penenun baru yang lahir? Berapa tradisi lisan yang terdokumentasikan? Berapa rumah warga memperoleh tambahan pendapatan? Dan setelah kamera, wisatawan serta panggung festival pergi, apakah masyarakat masih mengenali kebudayaannya sendiri?

Pertanyaan terakhir itulah yang paling penting.

Sebab kebudayaan bukan milik wisatawan.

Kebudayaan pertama-tama adalah milik masyarakat yang melahirkan, menjalankan dan mewariskannya.

Dalam Mulud Adat Bayan, kita dapat membaca hampir seluruh ekosistem pemajuan kebudayaan: ritus, adat istiadat, tradisi lisan, pengetahuan tradisional, keterampilan tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, hingga cagar budaya dan ruang-ruang bersejarah.

Di sinilah konsep 12 Objek Pemajuan Kebudayaan menemukan bentuk konkretnya.

Bukan daftar administratif di dalam dokumen pemerintah, tetapi kehidupan.

Seorang ibu yang memasak dengan pengetahuan turun-temurun adalah bagian dari pemajuan kebudayaan.

Seorang pemangku adat yang menjelaskan urutan ritual adalah penjaga pengetahuan.

Anak muda yang belajar memakai busana adat, memainkan kesenian atau memahami bahasa leluhurnya sedang menjalankan regenerasi kebudayaan.

Demikian pula seorang wisatawan yang menginap di rumah warga, membeli tenun dan mematuhi tata tertib adat sesungguhnya telah masuk ke dalam ekosistem pemanfaatan kebudayaan.

Karena itu saya melihat Bayan layak dikembangkan sebagai salah satu simpul strategis kebudayaan NTB.

Bukan dengan membangun sebanyak mungkin bangunan baru, melainkan dengan memperkuat ekosistem yang sudah hidup.

Pelindungan dan pelestarian memastikan ritus, pengetahuan, ruang sakral, bangunan bersejarah dan tradisi tidak hilang.

Pembinaan dan pengembangan memastikan generasi baru menerima pengetahuan tersebut.

Pemanfaatan dan kerja sama kemudian membuka pintu agar kebudayaan berhubungan dengan pendidikan, penelitian, pariwisata, ekonomi kreatif, teknologi, UMKM dan jejaring internasional.

Dari Bayan, pikiran saya kemudian bergerak lebih jauh.

NTB sesungguhnya mempunyai titik-titik kebudayaan yang jika dihubungkan akan membentuk sebuah jalur peradaban yang sangat kuat.

Di barat terdapat Kota Tua Ampenan, kota pelabuhan lama tempat berbagai komunitas—Sasak, Bali, Arab, Melayu, Tionghoa dan Eropa—pernah bertemu.

Bergerak ke utara terdapat Bayan dengan Masjid Kuno Bayan Beleq dan lanskap adatnya.

Ke timur ada Sembalun, dengan Rinjani, pertanian, ritus dan pengetahuan ekologis masyarakatnya.

Turun ke Lombok Timur terdapat Pringgasela dengan tradisi tenun.

Di Lombok Tengah ada Sukarara, salah satu sentra tenun yang memperlihatkan bagaimana keterampilan tradisional diwariskan terutama melalui tangan perempuan.

Tidak jauh dari sana berdiri Sade yang kini sedang kita perjuangkan untuk bangkit kembali.

Kemudian Mandalika hadir sebagai kawasan pariwisata internasional. Tantangannya adalah memastikan Mandalika tidak menjadi pulau ekonomi yang terpisah dari kebudayaan masyarakat di sekelilingnya.

Bayangkan apabila jalur itu disambungkan.

Ampenan–Bayan–Sembalun–Pringgasela–Sukarara–Mandalika–Sade.

Dan perjalanan tidak berhenti di Pulau Lombok.

Selat Alas harus menjadi jembatan, bukan pemisah.

Di Pulau Sumbawa terdapat warisan Kesultanan Sumbawa, bahasa Samawa, tradisi, seni, tenun dan pengetahuan masyarakatnya.

Dompu menyimpan lapisan sejarah kerajaan, situs, tradisi serta kebudayaan agraris yang panjang.

Lebih ke timur, Bima menghadirkan Kesultanan Bima, Asi Mbojo, manuskrip, Rimpu, bahasa Mbojo, tradisi Islam dan jejak perjumpaan antarpulau yang selama berabad-abad menghubungkan bagian timur Nusantara.

Sasak, Samawa dan Mbojo tidak semestinya berjalan sebagai tiga cerita yang terpisah.

Mereka adalah bab-bab dari buku besar yang sama: peradaban Nusa Tenggara Barat.

Inilah yang saya bayangkan sebagai koridor kebudayaan NTB.

Bukan sekadar rute perjalanan wisata, melainkan jejaring kawasan kebudayaan yang menghubungkan sejarah, masyarakat adat, kampung tradisional, kesultanan, tenun, kuliner, manuskrip, ritus, bahasa, seni, lanskap alam dan ekonomi kreatif.

Wisatawan yang datang ke NTB kelak tidak hanya ditawari pantai, gunung dan balapan.

Mereka dapat mengikuti sebuah perjalanan peradaban.

Mereka bisa memulai dari kota pelabuhan tua Ampenan, memasuki lanskap Islam dan adat Bayan, membaca pengetahuan ekologis Sembalun, melihat perempuan menenun di Pringgasela dan Sukarara, memahami kehidupan masyarakat Sasak di Sade, menikmati Mandalika, lalu menyeberang menuju jejak Kesultanan Sumbawa, Dompu dan Bima.

Dengan cara demikian, pariwisata tidak mengonsumsi kebudayaan.

Pariwisata justru membantu kebudayaan menemukan nilai tambahnya.

Tetapi semua itu hanya mungkin apabila masyarakat ditempatkan sebagai subjek.

Pemerintah tidak memiliki kebudayaan mereka.

Tugas pemerintah adalah hadir untuk melindungi, memfasilitasi, mengembangkan, menghubungkan dan memastikan masyarakat memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari kebudayaan yang selama berabad-abad mereka jaga.

Menjelang malam, kami meninggalkan Bayan.

Cahaya di sekitar Masjid Kuno Bayan Beleq perlahan meredup. Beberapa wisatawan masih berjalan mengenakan kain adat. Warga masih menyelesaikan bagiannya dalam rangkaian ritual.

Saya kembali teringat Sade.

Seminggu ini seperti sebuah perjalanan pendek untuk memahami pekerjaan kebudayaan dalam tiga wajahnya.

Di Sade, kita melihat betapa rapuhnya sebuah warisan ketika bencana datang.

Di Sembalun, kita menemukan tradisi yang masih intim, hidup di tengah masyarakat, tetapi memerlukan pembinaan, dokumentasi dan pengembangan agar dapat bertahan menghadapi perubahan.

Di Bayan, kita melihat tahap berikutnya: kebudayaan yang tetap berakar tetapi telah menemukan panggung pariwisata yang lebih luas.

Sade, Sembalun dan Bayan akhirnya mengajarkan satu hal yang sama.

Kebudayaan harus hidup.

Ia tidak cukup disimpan di museum, dicatat dalam dokumen atau dipertontonkan setahun sekali.

Ia harus diwariskan, digunakan, dikembangkan dan—ketika bencana menghancurkannya—dibangun kembali.

Barangkali itulah inti pemajuan kebudayaan.

Bukan membuat masa lalu menjadi indah untuk dikenang, melainkan memastikan nilai-nilai terbaik dari masa lalu tetap mempunyai tempat dalam kehidupan hari ini dan menemukan jalan menuju masa depan.

Sebab pada akhirnya, membangun kebudayaan tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang baru.

Kadang-kadang pekerjaan terbesar kita justru jauh lebih sederhana sekaligus lebih berat:

COPYRIGHT © ANTARA 2026