Masalah kehilangan ingatan juga dialami veteran Angkatan Darat Frank Sonntag setelah mengalami TBI akibat ledakan mortir di Irak pada 2004.
Saat itu, Sonntag berusia 50-an tahun dan sedang melatih pasukan cadangan. Ia merasakan hembusan angin akibat ledakan yang terjadi sekitar 70 kaki atau 21 meter dari tempatnya.
Ia tidak menyadari telah mengalami cedera dan baru mencari pengobatan dua tahun kemudian. Selama itu, ia mengabaikan sakit kepala yang semakin parah dan brain fog.
Kondisinya kemudian memburuk. Ia membutuhkan waktu hingga 30 menit hanya untuk menulis sebuah email, sementara rekan-rekannya mengatakan bahwa ia berbicara satu kata setiap 10 detik.
Sonntag juga sempat mempertimbangkan bunuh diri. Ia baru mendapatkan diagnosis setelah tersesat saat mengemudi pulang.
Ahli saraf kemudian memberikan obat untuk mengatasi migrainnya, selain sejumlah perawatan lainnya.
"Terapi bicara adalah salah satu hal terbaik yang saya dapatkan," kata Sonntag, yang kini berusia 75 tahun dan tinggal di Queen Creek, Arizona.
"Mereka mengajari saya cara melatih kata-kata yang saya ucapkan dan bagaimana menyusun kalimat kembali," ujarnya.
Kelly Parker, direktur layanan independen di Wounded Warrior Project, mengatakan sulit untuk memprediksi bagaimana cedera otak akan berkembang pada setiap orang.
"Jika Anda melihat satu TBI, Anda telah melihat satu TBI," katanya.
Menurut Parker, pemeriksaan, penanganan dini, dan dukungan dapat menjadi faktor penting untuk membantu seseorang kembali menjalani kehidupan yang lebih normal. Terapi fisik, terapi bicara, dan terapi seni juga dapat memberikan perbaikan.
"Masih banyak yang tidak kita ketahui tentang otak, tetapi satu hal yang kita tahu adalah otak dapat menyembuhkan dirinya sendiri," kata Parker.
"Kita tahu jalur saraf baru dapat terbentuk, dan kita benar-benar percaya bahwa otak dapat beradaptasi. Kita telah melihatnya terjadi," ujarnya.
Veteran Angkatan Darat Spencer Milo juga menghadapi persoalan serupa. Setelah bertahun-tahun meninggalkan dinas militer, ia masih mengalami migrain, kejang, dan mudah lupa.
TBI pertamanya terjadi di Irak pada 2008, ketika Humvee yang ditumpanginya menabrak tembok saat berusaha menghindari tembakan. Cedera kedua dialaminya akibat ledakan bom bunuh diri di Afghanistan pada 2011.
"Saya punya rekan sesama anggota militer yang bahkan berada bersama saya pada hari-hari itu, dan mereka berkata, 'Kawan, kenapa kamu tidak bisa melupakannya saja?'" kata Milo, 41 tahun, dari Parker, Colorado.
"Saya benar-benar berharap sesederhana itu. Ini sulit karena ketika sesuatu tidak bisa dilihat, sulit untuk percaya bahwa itu benar-benar ada," ujarnya.