Kota Meksiko (ANTARA) - Pemimpin wilayah Ceuta, Juan Jesus Vivas, mendesak pemerintah segera mendeportasi semua migran ilegal yang memasuki wilayah otonom di Spanyol tersebut dalam gelombang kedatangan besar-besaran dari Maroko.
"Semua orang yang memasuki Ceuta secara ilegal dalam gelombang ini harus segera dipulangkan melalui perlintasan perbatasan Tarajal," kata Vivas kepada wartawan seusai bertemu Raja Spanyol Felipe VI, Kamis.
Vivas mengatakan Ceuta menghadapi situasi kemanusiaan yang tidak mampu ditangani sendiri karena sekitar 3.000 hingga 6.000 migran masih berada di wilayah tersebut meskipun pemindahan ke daratan utama Spanyol terus dilakukan.
Dia menambahkan bahwa kondisi paling memprihatinkan terjadi pada kelompok anak-anak di bawah umur.
Menurut Vivas, fasilitas yang tersedia di Ceuta hanya dirancang untuk menampung sekitar 90 anak tanpa pendamping, tetapi saat ini terdapat sekitar 1.100 anak yang berada dalam perlindungan negara.
Vivas menegaskan bahwa peristiwa tersebut tidak boleh dipandang sebagai krisis migrasi biasa, melainkan sebagai pelanggaran terhadap integritas wilayah Spanyol dan Uni Eropa yang memerlukan tindakan tegas dari pemerintah.
Pekan lalu, Ceuta, wilayah otonom Spanyol yang terletak di Afrika Utara dan berbatasan langsung dengan Maroko, mengalami lonjakan kedatangan migran dalam jumlah besar.
Sekitar 60.000 orang dilaporkan memasuki wilayah itu hanya dalam satu hari, sementara jumlah penduduk Ceuta diperkirakan mencapai 85.000 jiwa.
Sejumlah pejabat dari negara-negara anggota Uni Eropa, termasuk Denmark, Italia, Republik Ceko, dan Finlandia, juga menyerukan penangguhan sementara keanggotaan Spanyol dalam kawasan Schengen.
Sumber: Sputnik
Pewarta: Yoanita Hastryka Djohan
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.