Cerita Teuku Rifnu Wikana di Balik Lahirnya MonoPlay Festival 2026

September 2026 · 3 minute read

Jadi intinya...

Liputan6.com, Jakarta -

Rifnu menjelaskan, latar belakangnya sebagai aktor yang berangkat dari panggung teater sebelum terjun ke dunia film menjadi salah satu alasan lahirnya festival ini. Ia bersama rekan-rekannya sudah memiliki komunitas teater sejak bertahun-tahun lalu.

"Karena kebetulan saya adalah aktor yang dari panggung, dari teater yang kemudian ke film, yang memang punya satu grup dari sejauh tahun 2004 itu bersama Krisna Aditya, Adit, yang kita punya satu grup teater, kita selalu bercengkerama dalam proses pementasan, kemudian proses pembelajaran kita sama-sama," kata Teuku Rifnu Wikana saat ditemui di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (22/9/2026).

Rifnu bercerita, ide festival ini awalnya muncul begitu saja saat ia dan rekan-rekannya sedang berkumpul santai. Obrolan tersebut kemudian berkembang menjadi gagasan mengumpulkan aktor film dan teater dalam satu panggung.

"Lalu, ketika kita ngopi bareng, tiba-tiba ada ide mau membawa saya untuk monolog keliling beberapa tempat, gitu. Tapi pada akhirnya kita menjurus kepada, gimana kalau seandainya kita mengumpulkan aktor-aktor film dan teater?," ungkapnya.

Jadi Sebuah Tantangan

Menurut Rifnu, format monolog dipilih karena dianggap menjadi tantangan besar bagi para aktor. Sebab, di atas panggung teater, seorang aktor tidak memiliki ruang untuk bersembunyi dari kekurangannya sendiri.

"Ini adalah tantangan karena tidak ada ruang untuk sembunyi bagi para aktor. Karena di situ dia akan bagaimana dia menghadirkan kehidupan di atas panggung, tanpa ada cara untuk lari, dia memahami apa yang dia ingin pentaskan, dan dia paham betul tubuh serta ruang yang ingin dia hadirkan," paparnya.

Tema yang Dekat Dengan Kehidupan Para Aktor

Ia menambahkan, tema yang diangkat dalam setiap pertunjukan sengaja dibuat dekat dengan kehidupan para aktor sendiri. Menurutnya, cerita yang terlalu jauh dari pengalaman pribadi akan sulit tersampaikan ke penonton.

"Jadi hal-hal yang terlalu jauh akan susah dijamah, maka kita mencari sesuatu yang lebih dekat, maka nyampai nih. Jadi enggak jauh dari lingkungan aktor, maka itu dikemas jadi satu pertunjukan," tuturnya.

Festival ini menghadirkan enam aktor dengan karya masing-masing, yakni Kimberly Ryder, Rahayu Saraswati, Sigit Hardadi, Bagus Ade Saputra, Tegar Bramanastrya, dan aktor internasional Yeliz Čelebić.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

for Revenge Masuk 2 Nominasi AMI Awards 2026, Bersaing di Kategori Pop dan Rock