Cahaya di Pulau Dudepo di Hari Kemerdekaan - ANTARA News Gorontalo

August 2026 · 6 minute read

Gorontalo (ANTARA) - Mungkin tidak ada yang menyangka kalau Dudepo itu sebenarnya adalah nama satu pohon yang daunnya sering dimasak sebagai sayur.

Dudepo yang ini adalah sebuah pulau berpenduduk 1.286 jiwa di wilayah Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo.

Meski Dudepo, berasal dari nama pohon, namun keberadaan Pohon Dudepo mulai langka di wilayah itu.

"Rata-rata warga Dudepo hidup dari aktivitas melaut dan bertani," kata Kepala Desa Dudepo Rustam Biiya.

Saat musim kemarau panjang, meski ombak sedang "mengganas", warga tetap melaut untuk menyambung hidup.

Kebanyakan pengunjung ke pulau itu, sering mengalami trauma dengan ombak tinggi dan angin kencang, namun bagi warga, kondisi seperti itu sudah menjadi hal yang biasa.

Tidak heran, meski cuaca di laut sedang ekstrem, warga tetap melaut untuk bisa berpenghasilan.

Realisasikan dermaga

Tiga periode Rustam Biiya menjabat sebagai Kepala Desa Dudepo. Sosoknya dikagumi masyarakat Dudepo, tak heran Rustam menjabat hingga tiga periode lamanya.

Bagi Rustam, banyak hal yang perlu diperjuangkan untuk membangun Pulau Dudepo, khususnya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), meningkatkan derajat kesehatan, dan memastikan semua warga belajar, bisa mengenyam pendidikan sampai ke jenjang perguruan tinggi. Tantangannya adalah belum adanya sekolah menengah atas (SMA) di pulau itu.

Warga di pulau itu tergolong sedikit, jumlah laki-laki hanya 626 orang, sedangkan perempuan 660 orang, dengan total kepala keluarga mencapai 395 KK.

Meskipun dihadapkan pada berbagai kendala, semangat membangun pulau itu tak pernah surut. Bahkan, Pulau Dudepo mampu menjelma sebagai salah satu wilayah penyangga sektor perikanan dan pertanian di Kabupaten Gorontalo Utara.

Sejak tahun 2006, dia dipilih masyarakat menjadi kepala desa, dan pada 2027 akan menjadi masa akhir jabatannya. Tentu, masih banyak tugas dan upaya yang perlu dia pacu untuk terus memajukan Pulau Dudepo.

Salah satu keinginan terbesar Rustam, adalah merealisasikan dermaga representatif di pulau itu. Pulau Dudepo sangat memerlukan dermaga multifungsi.

Seringkali orang penasaran ingin berkunjung ke Pulau Dudepo, namun tidak adanya dermaga seringkali banyak yang urung menginjakkan kaki di pulau itu, sebab harus berjalan jauh dari tempat perahu ditambatkan untuk menjangkau wilayah pemukiman.

Keberadaan dermaga fungsinya sangat banyak, tidak sekadar menjadi tambatan perahu nelayan maupun akses transportasi, namun kehadiran dermaga akan sangat memudahkan mobilitas dari dan ke pulau itu.

Dermaga tambatan perahu juga diyakini akan memudahkan pengangkutan hasil bumi dari Pulau Dudepo.

Produksi pertanian atau perkebunan, di antaranya jagung dan kelapa, pasti lebih mudah diangkut ke pusat perdagangan di Kecamatan Anggrek.

Semua berharap pemerintah dapat merealisasikan mimpi rakyat Dudepo untuk memiliki dermaga tambatan representatif, sebab dermaga yang sebelumnya telah ada, sudah rusak total sehingga tidak aman digunakan lagi.

Cahaya di Dudepo

Tahun 2026, genap 81 usia Republik Indonesia. Tahun 2026 juga menjadi harapan baru bagi warga Pulau Dudepo untuk bisa menikmati penerangan listrik.

Warga bersyukur karena mimpi dan harapan mereka bisa menikmati penerangan listrik di tahun 2026 ini terwujud.

Penyalaan perdana listrik masuk Dudepo telah dilakukan pada 3 Agustus, dihadiri anggota DPR RI Komisi XII Rusli Habibie, Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie, Bupati Gorontalo Utara Thariq Modanggu, Ketua DPRD Provinsi Gorontalo Thomas Mopili, anggota Komisi II DPRD Gorontalo Utara Lukum Diko, jajaran PT PLN, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), disambut ucapan syukur masyarakat.

Pemerintah berhasil merealisasikan janji untuk memeratakan keadilan penerangan listrik sampai di wilayah terluar menjangkau Pulau Dudepo, yang berada di Kabupaten Gorontalo Utara, sebuah wilayah kabupaten satu-satunya di sebelah utara Provinsi Gorontalo.

Bersamaan dengan peringatan Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2026, seluruh rumah di Pulau Dudepo akan terang benderang dengan cahaya listrik.

Suplai energi listrik ke Pulau Dudepo diwujudkan melalui Saluran Kabel Laut Tegangan Menengah (SKLTM) 20 kilovolt (kV).

Sebanyak 335 rumah, delapan masjid, empat sekolah dasar, satu sekolah menengah pertama (SMP), satu sekolah pendidikan anak usia dini (PAUD), kantor desa dan sekretariat badan permusyawaratan desa (BPD), diharapkan segera menikmati penerangan listrik.

Infrastruktur meteran listrik diberikan gratis kepada warga. Tahap verifikasi calon penerima sementara berlangsung.

Rustam dan warga berterima kasih dan bersyukur atas diterimanya program dari PLN sebagai representasi hadirnya negara di Pulau Dudepo.

Masyarakat terus menaruh harapan cahaya terang yang dihadirkan dapat melajukan pembangunan di Pulau Dudepo dari sebuah desa berkembang, menjadi desa maju bercahaya dengan segala potensi yang dimiliki.

Pulau Dudepo diharapkan menjelma menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Gorontalo Utara.

Banyak objek wisata yang memiliki nilai jual tinggi di pulau itu yang dapat dikembangkan setelah nyala listrik memendar untuk menarik minat wisatawan datang ke Gorontalo Utara, secara khusus ke Pulau Dudepo.

Dengan penerangan listrik, banyak dampak ekonomi diyakini akan berputar di pulau tersebut. Nantinya, warga bisa berinovasi dalam kegiatan perekonomian di sektor riil, nelayan bisa melaut lebih jauh dengan membawa bekal es untuk mengawetkan hasil tangkapan.

Es batu, mungkin menjadi hal biasa di wilayah lain, namun bagi nelayan Pulau Dudepo, air beku itu menjadi penyemangat mereka untuk melaut lebih jauh, serta lebih lama sebab ikan hasil tangkapan bisa diawetkan dengan es batu produksi sendiri.

Nelayan tidak perlu jauh-jauh ke darat di pusat kecamatan untuk membeli es batu, sebab listrik akan memudahkan warga memproduksi sendiri es batu.

Dengan bantuan es batu, produksi ikan di Dudepo tentu potensial meningkat.

Selain untuk penerangan, listrik akan menjadi energi besar mendorong semangat nelayan untuk meningkatkan aktivitas dan produksi perikanan tangkap yang mereka geluti sejak lama.

Manager Unit Layanan PLN Kwandang M Ikhzan mengatakan masyarakat di pulau terluar, Pulau Dudepo, akhirnya dapat menikmati akses listrik 24 jam dari PT PLN (Persero) untuk pertama kalinya.

Penyalaan perdana listrik di Desa Dudepo telah dilaksanakan pada Senin (3/8), sekaligus menandai tonggak sejarah penting sektor kelistrikan di Gorontalo.

Dengan teralirinya listrik ke Pulau Dudepo, rasio desa berlistrik (RDB) di Provinsi Gorontalo resmi mencapai 100 persen.

Keberhasilan menghadirkan listrik di pulau ini memerlukan perjuangan fisik dan teknis yang tidak mudah. Tantangan utama terletak pada kondisi geografis Pulau Dudepo yang terpisah oleh lautan.

Untuk menembus batas tersebut, PLN membangun proyek monumental berupa Saluran Kabel Laut Tegangan Menengah (SKLTM) 20 kV sepanjang 1,95 kilometer sirkuit (kms) yang menyeberangi selat untuk menghubungkan pasokan listrik dari sistem darat Desa Ilangata menuju Pulau Dudepo.

PLN berhasil melakukannya. Saat ini tahapan verifikasi di tingkat Kementerian ESDM sementara berlangsung untuk tahapan selanjutnya, yaitu penyambungan listrik ke rumah-rumah penduduk.

Ada sekitar 316 rumah yang telah disurvei untuk selanjutnya dalam tahapan verifikasi sebagai rumah tangga sasaran penerima manfaat program rasio desa berlistrik di Provinsi Gorontalo, khususnya Kabupaten Gorontalo Utara.

PLN berhasil membangun proyek monumental berupa Saluran Kabel Laut Tegangan Menengah (SKLTM) 20 kV sepanjang 1,95 kilometer sirkuit (kms) yang menyeberangi selat untuk menghubungkan pasokan listrik dari sistem darat Desa Ilangata menuju Pulau Dudepo, Kecamatan Anggrek, Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo. ANTARA/HO-PLN

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Cahaya di Pulau Dudepo di Hari Kemerdekaan

Pewarta: Susanti Sako
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.