Kamis, 30 Juli 2026 - 11:40 WIB
VIVA – Belakangan ini, banyak orang menilai generasi milenial semakin sulit menjalani hari kerja penuh di kantor. Tidak sedikit yang menganggap mereka kurang memiliki etos kerja atau mudah menyerah. Namun, berbagai penelitian dan pengamatan menunjukkan kenyataannya jauh lebih kompleks.
Baca Juga
Generasi milenial menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Kenaikan biaya hidup, gaji yang tidak sebanding dengan kebutuhan, hingga tekanan kerja yang semakin tinggi membuat mereka lebih rentan mengalami kelelahan mental atau burnout. Kondisi inilah yang membuat banyak milenial kehilangan semangat untuk bekerja secara maksimal sepanjang hari.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Berikut beberapa alasan utama mengapa banyak milenial merasa kesulitan menjalani satu hari kerja penuh, melansir dari YourTango.
Baca Juga
1. Atasan terlalu mengontrol pekerjaan
Salah satu penyebab terbesar adalah gaya kepemimpinan yang terlalu mengawasi setiap detail pekerjaan atau micromanaging. Kondisi ini membuat karyawan kehilangan rasa percaya dan kebebasan untuk mengambil keputusan. Akibatnya, kreativitas menurun dan pekerjaan justru terasa lebih melelahkan.
Baca Juga
2. Gaji dinilai belum sebanding
Banyak milenial merasa penghasilan yang diterima belum mampu mengimbangi biaya hidup yang terus meningkat.
Harga rumah, sewa tempat tinggal, kebutuhan pokok, hingga biaya transportasi membuat sebagian besar pendapatan habis untuk kebutuhan sehari-hari. Situasi tersebut membuat mereka enggan bekerja melebihi tugas yang sudah menjadi tanggung jawabnya.
3. Lingkungan kerja tidak sehat
Budaya kerja yang penuh tekanan, minim dukungan, serta kurang memperhatikan kesehatan mental menjadi faktor lain yang membuat milenial cepat kehilangan motivasi.
Lingkungan kerja yang toksik sering kali membuat karyawan merasa terisolasi dan tidak nyaman berada di kantor.
4. Ekspektasi yang tidak realistis
Sebagian perusahaan menetapkan target yang sangat tinggi tanpa menyediakan sumber daya atau dukungan yang memadai.
Ketika target sulit dicapai, karyawan terus-menerus merasa gagal meski telah bekerja keras. Hal ini akhirnya memicu stres berkepanjangan.
5. Lebih memprioritaskan kehidupan pribadi
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Berbeda dengan generasi terdahulu, milenial sangat menghargai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance).
Banyak dari mereka rela memilih pekerjaan dengan penghasilan lebih rendah asalkan memiliki waktu yang cukup untuk keluarga, hobi, maupun kesehatan diri.
Halaman Selanjutnya
6. Tidak ingin pekerjaan menjadi identitas hidup