BRIN siapkan kajian dan pemetaan risiko untuk dukung rekonstruksi Sumatera - ANTARA News Megapolitan

September 2026 · 2 minute read

Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan kajian dan pemetaan risiko bencana sebagai bagian dari dukungan berbasis sains, untuk pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Ketua Task Force Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera Joko Widodo mengatakan kajian risiko menjadi salah satu hal yang penting dilakukan, seperti dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sumatera, karena kondisi kerawanan bencana di suatu wilayah dapat berubah, termasuk akibat perubahan iklim.

"Kami banyak melakukan kajian dalam rangka mendukung itu. Salah satunya adalah kami melakukan pemetaan risiko bencana di area terdampak," kata Joko usai menghadiri Kick Off Meeting Task Force Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera di Jakarta, Rabu.

Baca juga: BRIN kaji pemanfaatan singkong sebagai alternatif atasi karhutla

Diketahui, Task Force BRIN idibentuk sebagai tindak lanjut Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2026 tentang Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana alam di tiga provinsi, serta ditindaklanjuti Keputusan Kepala BRIN Nomor 18/I/HK/2026. Joko menambahkan bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menunjukkan peningkatan intensitas curah hujan yang perlu menjadi perhatian dalam perencanaan pembangunan pascabencana. Menurut dia, curah hujan yang sebelumnya sekitar 100 hingga 150 milimeter dapat mencapai 400 milimeter dalam kondisi tertentu, sehingga perlu menjadi kesadaran baru dalam memperbarui pemetaan risiko bencana.

"Tentunya, itu menjadi sebuah kesadaran baru bagi kita semuanya bahwa curah hujan seperti itu sangat mungkin terjadi di masa depannya akibat perubahan iklim," ujarnya.

Baca juga: Presiden minta BRIN bangun teknologi desalinasi penuhi kebutuhan air

Oleh karena itu, kata Joko melanjutkan, area yang sebelumnya tidak dikategorikan rawan perlu dikaji kembali untuk memastikan pembangunan pascabencana mempertimbangkan kondisi risiko terbaru.

Ia menambahkan hasil pemutakhiran seperti kajian tersebut perlu menjadi salah satu patokan dalam pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi, sehingga pembangunan tidak hanya berorientasi pada pemulihan fisik, tetapi juga mempertimbangkan potensi risiko bencana kedepan.

"Itu harus menjadi patokan dalam nanti rehab-rekon ke depan tentunya dengan mengetahui potensi risiko, bencana kita bisa hindari, terutama untuk pembangunan hunian tetap," ucap Joko.

Pewarta: Tri Meilani Ameliya
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.