Bos Indosat (ISAT) Bantah Gelembung AI, Sebut Dongkrak 30% Pendapatan Investasi - Korporasi Katadata.co.id

August 2026 · 3 minute read

PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk menyatakan industri akal imitasi atau AI tidak memiliki gelembung finansial. Hal lantaran emiten berkode ISAT ini telah membuktikan peningkatan performa keuangan setelah menggunakan AI.

McKinsey melaporkan pendapatan ISAT tumbuh 30% secara tahunan setelah mengolah 2,5 triliun data poin setiap bulannya pada 2025. Pada periode yang sama, lebih dari 2.000 orang atau sekitar 75% dari pegawai ISAT telah memiliki sertifikasi AI.

"Alasan kami sukses dalam integrasi AI adalah tujuan penggunaan AI untuk pertumbuhan perusahaan melalui peningkatan nilai konsumen," kata CEO ISAT Vikram Sinha di Universitas Gadjah Mada, Kamis (13/8).

Vikram menilai kunci penggunaan AI bagi entitas perusahaan adalah cara menggunakan AI untuk menumbuhkan bisnis masing-masing perusahaan. Hal tersebut penting lantaran Vikram menilai dampak penggunaan AI nyata dan era pemanfaatan AI adalah saat ini.

"Secara historis, siklus investasi terhadap AI tidak pernah terjadi seperti saat ini," katanya.

Walau demikian, Vikram mengakui industri AI saat ini belum menjamah konsumen ritel secara penuh. Menurutnya, penggunaan AI baru memiliki dampak positif bagi konsumen perusahaan.

Namun Vikram menilai target pasar AI mulai bergerak selama dua tahun terakhir. Menurutnya, AI baru mulai digunakan secara menguntungkan oleh 10 pengguna hyperscalers pada 2024.

"Selama setahun terakhir, saya melihat pasar utama AI telah bergeser menuju perusahaan besar," katanya.

Lebih jauh ia mengatakan konsumen ritel belum menggunakan AI secara penuh dan masih dalam tahap mencoba-coba. Menurutnya, hal tersebut merupakan pertimbangan ISAT untuk melakukan investasi sekitar Rp 105 miliar dalam pengembangan sumber daya manusia melalui proyek NVIDIA AI Technology Center atau NVIDIATC. 

Proyek tersebut merupakan kerja sama antara ISAT, Nvidia Corporation, dan Universitas Gadjah Mada atau UGM. "Kami membawa talenta manusia dan UGM memainkan peran yang sangat penting. Sebab, kedaulatan data bergantung pada SDM yang menggunakan data. Kita tidak bisa membuka potensi SDM secara penuh tanpa adanya investasi," ujarnya.

Vikram memaparkan investasi dalam NVIDIATC tersebut terdiri dari kredit GPU senilai Rp 35 miliar dan pengembangan SDM senilai Rp 70 miliar. Secara umum, kredit GPU adalah kupon untuk mengakses GPU yang dimiliki Nvidia dari jarak jauh.

Ia pun berkomitmen dapat menambah investasi dalam NVIDIATC senilai Rp 100 miliar dalam bentuk kredit GPU. Hal tersebut dilakukan setelah Vikram melihat tiga produk awal besutan NVIDIATC, yakni aplikasi pendeteksi tuberkulosis (e-Nose), solusi mitigasi bencana berbasis AI (Tech4Disaster), dan aplikasi pertanian pintar berbasis AI (SmartAgri).

Selain itu ia menargetkan investasi SDM tersebut dapat meningkatkan SDM yang dapat menggunakan AI hingga 2 juta orang pada 2030. Nvidia mencatat total pengguna AI di Indonesia saat ini baru mencapai sekitar 500.000 orang.

Chief Economist Apollo Torsten Slok mengatakan industri layanan AI saat ini masih bergantung pada pendanaan investor. Hal tersebut ditunjukkan dari margin yang dihasilkan oleh empat jenis industri dalam ekosistem AI.

Keempat jenis industri tersebut adalah model dan aplikasi AI; komputasi dan komputasi awan; energi dan jaringan; dan silicon dan peralatan. Slok menjelaskan pasar utama industri model dan aplikasi AI merupakan adalah konsumen ritel, sementara pasar utama silicon dan equipment merupakan industri infrastruktur AI.

Pada kuartal kedua tahun ini, Slok menemukan industri model dan aplikasi AI masih merugi lantaran memiliki margin negatif hingga 59%. Sementara itu, industri silikon dan peralatan memiliki margin tertinggi atau hingga 41%.

Slok menjelaskan ledakan pendapatan yang dialami industri layanan AI disebabkan oleh investor, bukan konsumen. Karena itu, Slok menilai industri layanan AI akan dihadapkan pada dua pilihan: apakah adopsi konsumen ritel akan tiba cukup cepat sebelum investor menarik dananya dari pasar.

"Bagian paling menguntungkan dari rantai pasok AI bergantung pada bagian yang paling tidak menguntungkan untuk terus menumbuhkan pendapatan atau modal," katanya.

Reporter: Andi M. Arief