BKKBN Babel gencarkan edukasi pentingnya pendewasaan usia nikah - ANTARA News Bangka Belitung

July 2026 · 2 minute read

Pangkalpinang (ANTARA) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggencarkan edukasi pendewasaan usia perkawinan guna menekan angka stunting di daerah tersebut.

"Saat ini perkawinan usia muda masih tinggi, sehingga memicu kasus stunting di daerah ini," kata Kepala BKKBN Provinsi Kepulauan Babel Fazar Supriadi Sentosa di Pangkalpinang, Sabtu.

Ia mengatakan BKKBN Babel bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Kepulauan Babel serta pemerintah kabupaten dan kota untuk menggencarkan edukasi tersebut ke seluruh sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) guna menekan angka pernikahan dini.

Pihaknya juga mengedukasi para orang tua agar mengarahkan anak perempuan menikah pada usia minimal 21 tahun dan laki-laki 25 tahun. Langkah ini dinilai efektif menekan angka stunting, kematian ibu dan anak, hingga risiko perceraian.

"Kami berharap para orang tua, khususnya, tidak menikahkan anak perempuan, di bawah usia 21 tahun. Alangkah baiknya anak-anak didorong untuk melanjutkan pendidikan atau bekerja terlebih dahulu," katanya.

Ia menyebutkan prevalensi stunting di Provinsi Kepulauan Babel saat ini masih cukup tinggi, yakni mencapai 20,1 persen. Artinya, dari 100 kelahiran bayi, terdapat sekitar 20 anak yang mengalami stunting.

"Faktor pendidikan yang masih rendah menjadi salah satu pemicu stunting. Oleh karena itu, diperlukan edukasi pendewasaan usia pernikahan kepada masyarakat," ujarnya.

Menurut dia, selain faktor pendidikan, stunting juga disebabkan oleh perkawinan usia muda, pola pengasuhan, ekonomi, hingga kemajuan digital.

"Sekarang ini masih banyak orang tua yang meminta anak perempuannya tidak bersekolah tinggi-tinggi. Jika ada yang melamar, dipersilakan untuk menikah. Pola pikir seperti ini yang memicu tingginya perkawinan usia muda, yang pada akhirnya memicu stunting dan masalah sosial lainnya," katanya.

Pewarta: Aprionis
Uploader : Bima Agustian

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.