Bisnis Piala Dunia 2026: Perputaran Rp 734 Triliun Hanya Untungkan Segelintir Pihak

July 2026 · 3 minute read

1. FIFA

Jumlah uang yang dihasilkan FIFA melalui Piala Dunia sangat fantastis. Piala Dunia 2022 di Qatar mencatat keuntungan sebesar US$ 7,6 miliar, atau sekitar Rp 136,2 triliun (asumsi kurs Rp 17.919 per dolar AS). Angka ini diprediksikan akan meningkat, karena tim yang tadinya berjumlah 32 negara ditambah menjadi 48 negara pada tahun ini.

Analis senior Deutsche Bank Research, Marion Laboure, mengatakan bahwa FIFA “sudah pasti” adalah pemenang utama acara olahraga ini, karena pendapatannya selama siklus periode empat tahun mendekati angka US$ 13 miliar, yaitu sekitar Rp 232,9 triliun, didapat dari penjualan hak siar, hak lisensi dan keramahan, sponsor, serta penjualan tiket.

Laboure menambahkan, FIFA juga merambah pasar sekunder melalui platform penjualan kembali dengan mengambil pajak 15% dari pembeli dan penjual.

Peningkatan ini diprediksi akan berlanjut, karena FIFA berencana melakukan ekspansi lagi dengan mengikutsertakan 64 tim, yang mungkin mencakup China dan India, serta miliaran tambahan penonton dari sana.

2. Lembaga Penyiaran dan Sponsor

FIFA memasukkan jeda minum pada Piala Dunia 2026, yang diklaim Infantino “sepenuhnya kepentingan keolahragaan” tanpa pemasukan tambahan untuk organisasi tersebut. Namun jeda ini memberi kesempatan bagi penyiar dan sponsor untuk menampilkan iklan selama 90 detik. 

Fox Sports dikabarkan membayar US$ 485 juta untuk hak siar, dan jeda minum ini mereka sebut “disponsori” oleh sebuah brand. Menurut ahli, iklan 30 detik biasanya diberi harga US$ 200 ribu, sekitar Rp 3,6 miliar, hingga US$ 300 ribu, atau Rp 5,4 miliar. Harganya sempat mencapai US$ 750 ribu, atau sekitar Rp 13,4 miliar pada babak final pertandingan AS.

Artinya, jeda ini bisa menghasilkan untung sebanyak US$ 250 juta, atau sekitar Rp 4,4 triliun di AS jika peraturannya tidak diganti. 

“Format ini akan menetap karena skala adalah strategi bisnis FIFA sekarang,” pungkas Laboure.

Sedangkan, penonton dari Inggris yang menonton melalui saluran TV lokal terhindari dari iklan karena peraturan yang berlaku.

Sponsor resmi Piala Dunia juga membayar biaya tak sedikit, namun dapat dipastikan meraih untung finansial, contohnya Adidas dan Coca-Cola yang namanya terpampang di mana-mana.

3. David Beckham

Iklan Adidas juga menampilkan Sir David Beckham yang dihasilkan oleh AI. Meskipun Beckham sudah pensiun lebih dari satu dekade lalu, ia terus menjadi ikon sepakbola.

Klub Amerika miliknya, Inter Miami, diperkirakan menjadi klub terkaya Major League Soccer. Total kekayaannya sebanyak US$ 1,45 miliar, atau sekitar Rp 26 triliun. Oleh karenanya, Beckham dianggap sebagai ‘pemenang’ Piala Dunia dalam segi periklanan.

4. Perusahaan Judi

Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi acara judi terbesar sepanjang masa. Firma finansial yang tertarik dengan industri perjudian, Macquarie, memperkirakan sebanyak US$ 500 juta, atau sekitar Rp 9 triliun dipertaruhkan per pertandingan, dan secara total mencapai US$ 50 miliar, atau Rp 895,3 triliun.

Pemilik Paddy Power, Betfair, dan Sky Bet, Flutter Entertainment, memperkirakan bahwa jumlah taruhan akan dua kali lipat dibanding turnamen sebelumnya. Ini karena akan ada lebih banyak pertandingan, yakni lebih dari 100, serta pertumbuhan di AS dan Brasil.

Analis di Macquarie, Chad Beynon, mengungkap bahwa in-play betting (taruhan langsung) telah menggantikan pre-match punt (taruhan pra-pertandingan).

“Sekarang semuanya tentang menyesuaikan dengan apa yang terjadi di lapangan. Sedangkan, sebelumnya harus menunggu karena taruhan dilakukan sebelum pertandingan,” ujarnya.