Bagus Khoirunas: Karya fotografinya abadi, sosok selalu dirindukan

September 2026 · 8 minute read

Bagus Khoirunas: Karya fotografinya abadi, sosok selalu dirindukan

Jumat, 18 September 2026 13:04 WIB

Image Print

Ketua dewan juri Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2025 Oscar Motuloh (kiri) menyerahkan piala penghargaan kepada pewarta foto LKBN Antara Muhammad Bagus Khoirunas (kedua kanan) untuk kategori Essay General News saat ajang APFI 2025 di Loji Gandrung, Solo, Jawa Tengah, Jumat (25/4/2025). Ajang APFI 2025 yang digelar organisasi Pewarta Foto Indonesia (PFI) tersebut memberikan tujuh kategori dengan 12 penghargaan atas karya fotografi jurnalistik terbaik sepanjang tahun 2024. ANTARAFOTO/Maulana Surya/Spt. (ANTARA FOTO/Maulana Surya)

Pandeglang, Banten (ANTARA) - Untuk menjadi seorang jurnalis di sebuah kantor berita, seseorang dituntut memiliki kecerdasan, kreativitas, dan etos kerja di atas rata-rata.

Bahkan, tak jarang mereka harus siap bergelud dengan tantangan ekstrem di lapangan. Meninggalkan rumah berhari-hari untuk menjelajahi hutan, mendaki gunung, hingga menyeberangi samudera lepas guna menyiarkan informasi penting hasil peliputan secara cepat dan tepat ke seantero dunia sudah menjadi bagian dari tanggung jawab profesi tersebut.

Bahkan, tidak jarang mereka harus siap bergelut dengan tantangan ekstrem di lapangan. Meninggalkan rumah berhari-hari demi menjelajahi hutan, mendaki gunung, hingga menyeberangi samudra lepas untuk menyiarkan informasi penting secara cepat dan tepat ke seantero dunia sudah menjadi bagian dari tanggung jawab profesi tersebut.

Nilai-nilai idealisme itulah yang meresapi Muhammad Bagus Khoirunas, seorang pemuda yang kala itu baru genap di usia 20 tahun sudah berani memantapkan diri untuk berkarir sebagai jurnalis foto di Kantor Berita ANTARA.

Jalan yang ditempuhnya tentu tidak mudah. Bagus dipersiapkan melalui proses gemblengan dari para mentornya di redaksi ANTARA FOTO, sebuah wadah yang dikenal luas sebagai "Candradimuka" fotografer jurnalistik nasional.

Proses panjang dan disiplin tinggi tidak pernah mengkhianati hasil. Sejak karya foto pertamanya berjudul Digitalisasi Ekonomi Pedesaan —yang memotret warga menjadi perajin dompet di Warunggunung, Lebak, Banten— resmi tayang pada Desember 2018, Bagus terus melangkah membuktikan kualitas dirinya di panggung fotografi jurnalistik nasional.

Di lingkungan redaksi dan sesama pewarta foto, Bagus dikenal sebagai sosok yang sangat diandalkan dan dihormati.

Bingkai foto dan bunga mawar berada di atas meja saat doa bersama untuk jurnalis dan awak kapal yang hilang kontak di Carita, Pandeglang, Banten, Kamis (17/9/2026). (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/kye)

Koordinator Daerah ANTARA FOTO, Sigit, mengakui bahwa Bagus merupakan salah satu pentolan daerah yang memiliki daya jelajah luar biasa, khususnya di Provinsi Banten yang menjadi wilayah tugasnya. Bagus juga pintar menempatkan diri sehingga dia bisa berdampingan erat dengan para wartawan dan karyawan ANTARA Biro Banten.

Bagus bukanlah tipe pewarta yang hanya menunggu perintah penugasan dari meja redaksi. Sebagai seorang stringer foto, dia dikenal sangat aktif mengajukan usulan peliputan atau listing berita secara mandiri.

Sigit menegaskan bahwa setiap kali membicarakan potret kebudayaan Suku Baduy atau lanskap wilayah Banten, arah pandang para editor foto hampir pasti tertuju pada Bagus. Itu karena karya visualnya memiliki karakter dan "rasa" yang begitu kuat, sehingga para editor dapat dengan mudah mengenali gaya penataan sudut pandang khas Bagus tanpa harus melihat kredit nama di akhir caption foto.

Daya jelajah tinggi dan ketajaman rasa itu membawa Bagus merengkuh berbagai penghargaan bergengsi. Salah satu puncaknya terjadi pada ajang Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2025 di Loji Gandrung, Solo, Jawa Tengah. Bersama dua pewarta foto Kantor Berita ANTARA lainnya, Aditya Pradana Putra dan Dhemas Reviyanto, Bagus berhasil membawa pulang piala kemenangan.

Dia menjuarai foto esai kategori General News lewat karya berjudul Pesta Demokrasi dengan Balutan Tradisi Badui yang pialanya diserahkan langsung oleh Ketua Dewan Juri APFI 2025, Oscar Motuloh.

Bagus memotret perhelatan Pemilu 2024 di pedalaman Baduy selama empat hari penuh, mulai dari tahap distribusi, persiapan, hingga pelaksanaan. Ia menjadi saksi betapa masyarakat adat Baduy sangat antusias menyukseskan pesta demokrasi tersebut.

Capaian ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pewarta foto jempolan yang langganan menjuarai berbagai ajang, serta sangat diperhitungkan oleh para anggota organisasi Pewarta Foto Indonesia (PFI).

Kehebatan Bagus dari balik bidikan lensa kameranya berbanding lurus dengan ketangguhannya di lapangan.

Audindra, seorang jurnalis yang telah bersahabat dengannya selama tiga tahun terakhir, mengenang Bagus sebagai sosok dengan mentalitas baja dan tak mau menunda pekerjaan.

Saat terjadi peristiwa besar seperti banjir atau bangunan sekolah roboh, Bagus langsung menancap gas sepeda motornya menuju lokasi kejadian. Tak jarang, karya fotonya sudah tayang di berbagai portal berita nasional maupun internasional, bahkan sebelum rekan-rekannya sempat menanyakan keberadaannya.

Dalam ingatan Audindra, ketangguhan Bagus teruji nyata saat meliput bencana banjir yang menggenangi Desa Songgom Jaya, Cikande, Serang, Banten. Bagus tidak sekadar berdiri aman di pinggir genangan. Demi mendapatkan sudut pengambilan gambar yang presisi dan sarat pesan humanis, ia tidak ragu menerjang bahaya dengan terjun langsung ke lokasi banjir.

Dari peristiwa itu, profesionalisme Bagus menjadi jaminan bahwa tugas apa pun yang diembannya akan tuntas dengan kualitas berstandar tinggi.

"Orangnya berani gitu, kalo misalkan banjir pun dia nggak cuma di pinggiran tapi bener-bener nyemplung nyari spot yang bagus. Walaupun mungkin memang secara lokasi agak bahaya, ya orangnya berani, jadi karyanya bagus didukung sikap profesional tadi," kata Audindra

Namun, menurut Audindra, menggambarkan Bagus semata-mata sebagai pewarta foto yang andal rasanya belum cukup. Di luar aktivitas memegang kamera, pria yang dikenal berjiwa sosial tinggi dan supel bergaul lintas generasi ini memiliki kepribadian yang hangat serta serba bisa.

Bagus juga sangat menguasai dunia otomotif. Ia kerap menjadi tempat berkonsultasi bagi rekan-rekannya mengenai seluk-beluk mesin, rekomendasi bengkel, hingga detail harga suku cadang kendaraan.

Selain itu, pria berusia 28 tahun yang belum genap setahun menyandang status sebagai kepala rumah tangga ini juga dikenal sangat ramah dan mampu menghidupkan suasana.

Menurut Audindra, di sela-sela kepadatan jadwal peliputan, petikan gitar yang sering Bagus bagikan di media sosial serta kelakar khasnya di tempat nongkrong atau media center selalu ampuh mencairkan suasana. Karakter yang ramah, asyik, dan jauh dari konflik membuat sosoknya sangat dicintai di lingkungan pergaulan jurnalis Banten.

"Orangnya suka ngelucu, tapi kadang sering berkelakar gaya bapak-bapak. Garing sih, mungkin karena udah mau 30 kali ya. Tapi asyik dia orangnya, enggak menyebalkan. Saya enggak pernah ngeliat dia musuhan sama siapa-siapa, orangnya enggak problematis," kata Audindra.

"Bagus, kamu pulang ya, udah terlalu lama mainnya. Kita jalan-jalan lagi, kita ke Seribu lagi, kita bancakan lagi ya, Pulang Gus, pulanglah," ungkap Audindra, berharap Bagus mendengarkan pesannya itu.

Kini, etos kerja, keberanian, dan dedikasi tinggi pewarta foto berprestasi tersebut tengah diuji di tengah lautan. Pada Senin (7/9) pukul 14.00 WIB, Bagus bertolak dari Dermaga Pagedongan, Kecamatan Carita, Pandeglang, Banten. Bersama rombongan, ia mengemban tugas mulia memotret dinamika peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang saat itu menunjukkan lonjakan erupsi.

Rombongan tersebut terdiri dari delapan orang. Selain Bagus, terdapat empat pewarta foto lainnya, yakni Arie Basuki dari merdeka.com, Donal Husni, Yudhistira dari iNews, dan Firdaus dari Anadolu. Tiga orang sisanya adalah Sukarman dan Warta sebagai kru kapal, serta Heriyanto selaku pemandu. Mereka berlayar bersama menggunakan kapal cepat KM Arupadhatu I.

Namun, misi peliputan tersebut berubah menjadi operasi pencarian oleh Basarnas setelah kapal yang mereka tumpangi dilaporkan hilang kontak. Posisi terakhir kapal tercatat berada pada koordinat 6°14'40.52"S 105°40'49.48"T, yaitu di antara Pulau Rakata dan Pulau Sertung.

Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) secara masif pun langsung dikerahkan. Tidak tanggung-tanggung, operasi digelar selama 10 hari penuh oleh tim SAR gabungan yang melibatkan Basarnas, TNI Angkatan Laut, Polairud, hingga nelayan setempat.

Berbagai armada laut termasuk kapal tempur, helikopter, hingga teknologi penyisiran udara menggunakan drone dikerahkan untuk mengitari titik-titik koordinat SARMAP. Luas area pencarian mencapai 8.509 mil laut (nautical mile/NM) persegi, meliputi perairan sekitar Gunung Anak Krakatau (Banten dan Lampung) hingga perairan Samudra Hindia di sebelah barat Pulau Belimbing menuju selatan Pulau Enggano, Bengkulu.

Sesuai prosedur standar operasi (SOP) pelaksanaan SAR, masa pencarian resmi ditutup pada hari ke-10 setelah seluruh upaya optimal belum membuahkan hasil.

Suasana penuh harapan agar kedelapan penumpang dapat ditemukan terasa begitu haru saat deretan bingkai foto berhias kelopak mawar putih berjajar di atas meja. Momen itu mengemuka dalam prosesi doa bersama yang digelar di Posko SAR Utama Dermaga Carita, Kamis (17/9) malam.

Di sanalah keluarga inti, rekan sekantor, sahabat jurnalis, pejabat pemerintah, anggota legislatif, pimpinan perusahaan, jajaran tim SAR gabungan, hingga segenap warga Pandeglang bersimpuh untuk saling membesarkan hati.

Gubernur Banten Andra Soni dalam konferensi pers di Posko Utama SAR Gabungan, Dermaga Marina Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, Kamis (17/9/2026). (ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo)

Direktur Pemberitaan ANTARA, Virgandhi Prayudantoro, mengatakan bahwa sejak awal menerima informasi mengenai hilangnya kontak dengan Bagus, ANTARA terus melakukan berbagai upaya untuk mendukung proses pencarian. Langkah tersebut meliputi koordinasi bersama tim SAR gabungan, pendirian pos koordinasi di Carita, hingga pendampingan terhadap keluarga Bagus.

ANTARA menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia, Basarnas, TNI Angkatan Laut, Polri, Kementerian Komunikasi dan Digital, Kementerian Perhubungan, rekan-rekan media, masyarakat, serta seluruh pihak yang telah membantu dan mendukung proses pencarian Bagus.

Terkait langkah selanjutnya, ANTARA akan mengikuti perkembangan lebih lanjut bersama pihak-pihak terkait dan menghormati secara penuh setiap keputusan yang nantinya diambil oleh keluarga.

Selama menjalankan tugas di ANTARA, Bagus telah menunjukkan dedikasi, kerja keras, dan tanggung jawab yang luar biasa sebagai pewarta. Hal itu tercermin dalam karya-karya jurnalistiknya yang menjadi teladan sekaligus cerminan semangat serta kinerja pewarta ANTARA.

"Kami sangat menghargai pengabdian, dedikasi, dan kontribusi Bagus selama menjadi bagian dari keluarga besar ANTARA," kata Virgandhi.

Pewarta : M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Uploader: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.