ASITA NTT: Penguatan standar keselamatan mendukung wisata gunung api

September 2026 · 3 minute read

ASITA NTT: Penguatan standar keselamatan mendukung wisata gunung api

Sabtu, 26 September 2026 12:59 WIB

Image Print

Kawah Gunung Kelimutu di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Kawasan gunung api tersebut menjadi salah satu destinasi ikonik dan berpotensi menjadi wisata gunung api di NTT. ANTARA/HO-ASITA NTT

Kupang, NTT (ANTARA) - Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Nusa Tenggara Timur (NTT) menilai penguatan standar keselamatan dan sertifikasi bagi operator serta pemandu penting untuk mendukung pengembangan wisata gunung api atau volcano tour di daerahnya.

"Di volcano tour pun harus ada standar tertentu yang sudah dipenuhi oleh peserta, sehingga sudah terlatih atau sudah memiliki pengalaman, bukan orang yang baru sedang coba-coba," kata Ketua ASITA NTT Oyan Kristian saat dihubungi di Kupang, NTT, Sabtu.

Hal itu disampaikannya berkaitan dengan pengawasan dan standar keselamatan wisata gunung api, khususnya di wilayah Pulau Flores yang memiliki sejumlah gunung api dan berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata.

Menurut dia, standar keselamatan dalam wisata gunung api perlu mencakup kemampuan peserta dan kompetensi pemandu yang menangani kegiatan tersebut.

Ia mengatakan pemandu wisata gunung api perlu memiliki sertifikasi khusus dan kemampuan memahami karakteristik serta risiko kegunungapian.

"Demikian pun dengan pemandunya adalah orang yang memang sudah tersertifikasi secara khusus untuk mengatur wisata gunung atau volcano tour ini," ujarnya.

Oyan menilai selain kompetensi peserta dan pemandu, operator atau penyelenggara wisata gunung api juga perlu memenuhi persyaratan keselamatan tertentu sebelum menjalankan aktivitas wisata.

Ia juga menilai setiap aktivitas wisata ke kawasan gunung api perlu dilaporkan kepada pihak berwenang yang memiliki otoritas terhadap kawasan tersebut.

Menurut dia, wisatawan tidak seharusnya langsung melakukan aktivitas di kawasan gunung api tanpa memperoleh informasi dan izin dari pihak yang berwenang.

"Kalau ada wisata naik ke gunung api tertentu, itu harus dilaporkan kepada badan yang melakukan pengawasan atau yang punya otoritas memberikan izin kepada area-area gunung api tersebut," ujarnya.

Oyan menambahkan informasi mengenai aktivitas gunung api menjadi bagian penting sebelum wisatawan melakukan perjalanan.

Menurut dia, pihak yang memiliki informasi mengenai aktivitas gunung api perlu menyampaikan kondisi terkini kepada operator wisata sehingga dapat menjadi dasar dalam menentukan pelaksanaan kegiatan.

"Sangat penting untuk memberikan informasi terkait aktivitas gunung api, sehingga untuk setiap pendaki gunung atau wisatawan yang mau naik ke gunung api wajib dan harus mendapatkan informasi itu sebelum naik," katanya.

Ia mengatakan informasi mengenai kondisi aktivitas gunung api tersebut perlu dikelola secara baik dan disampaikan kepada operator maupun wisatawan sebelum kegiatan dilakukan.

"Ini adalah potensi baru wisata gunung api. Namun, tentu saja harus dipahami, dipelajari bagaimana potensi ini kemudian bisa benar-benar memberikan manfaat nilai secara ekonomi tanpa mengurangi faktor keamanan dan keselamatan wisatawan," katanya.

Oyan berharap pemerintah memperkuat pelatihan dan edukasi bagi operator wisata serta pemandu yang menangani kegiatan wisata gunung api, untuk mendukung pengembangan tersebut

Menurut dia, pengelolaan destinasi juga perlu ditata secara terstruktur, termasuk alur kunjungan wisatawan dan pemahaman pihak-pihak yang menangani wisatawan mengenai kegunungapian.

"Kita tidak hanya melihat bahwa ini potensi yang tidak baik, tetapi kita melihat bahwa ada potensi lain yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, yang bisa membuat paket-paket wisata baru selain yang sudah existing, yaitu paket wisata naik ke gunung api," ujarnya.

Adapun sejumlah gunung api di NTT yang berpotensi dikembangkan untuk wisata gunung api antara lain Gunung Kelimutu di Kabupaten Ende dan Gunung Inerie di Kabupaten Ngada.

Pewarta : Yoseph Boli Bataona
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.