Arab Saudi Batalkan Ekspor Minyak Usai Jalur Pipa Laut Merah Dibom, Trader Eropa Cari Alternatif |Republika Online

September 2026 · 2 minute read

Citra satelit menunjukkan asap membubung dari fasilitas pengolahan minyak Saudi di Kilang Jazan.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Arab Saudi memangkas pengiriman minyak ke Eropa setelah serangan drone merusak jalur utama pipa ekspor minyak mereka di Laut Merah, seperti dilaporkan Reuters, Selasa (15/9/2026), mengutip beberapa sumber dari kalangan pialang minyak. Keputusan Riyadh itu memicu pelanggan utama seperti dari Polandia bergegas mencari alternatif sumber minyak kala harga minyak kargo mencapai 120 dolar AS per barel. 

Serangan yang menurut Arab Saudi berasal dari milisi Irak, memaksa pihak kerajaan pada Jumat pekan lalu menutup jalur pipa gurun Timur-Barat. Jalur ekspor melalui Laut Merah itu selama ini menjadi cadangan jalur ekspor setelah Selat Hormuz ditutup oleh Iran enam bulan terakhir.

Sumber dari kalangan pelaku bisnis minyak pada Selasa mengatakan bahwa Arab Saudi telah menginformasikan pelanggan di Eropa bahwa beberapa pengiriman minyak pada September akan dibatalkan dan pemuatan minyak di Pelabuhan Yanbu di Laut Merah akan dihentikan sementara. Perusahaan minyak negara Saudi Aramco menolak berkomentar terkait hal ini.

Pemangkasan pengiriman minyak melalui Laut Merah, menurut sumber Reuters, akan membuat Arab Saudi mencoba kembali ekspor lewat Selat Hormuz menggunakan 'jalur gelap' yang selama ini juga digunakan oleh Uni Emirat Arab (UEA). Pengiriman lewat 'jalur gelap' itu selama ini dilaporkan bisa membuat negara-negara Teluk mampu mengekspor minyak hingga 7 sampai 9 juta barel per hari atau setara 30-40 persen dari nilai total ekspor sebelum perang terjadi.

Disrupsi ekspor minyak memengaruhi harga minyak Brent yang mencapai 108 dolar AS per barel dan harga minyak kargo di Eropa bahkan lebih tinggi lagi, di mana data LSEG melampirkan harga Brent mencapai 122 dolar AS per barel. Menurut data Vortexa, Arab Saudi memuat 22 juta barel minyak melalu 12 kapal di Ras Tanura/Juaymah pada 7-13 September, lebih tinggi dari pengiriman tiga pekan sebelumnya yakni enam hingga tujuh kapal per pekan.