Liputan6.com, London - Andy Burnham resmi menjadi perdana menteri ke-59 Inggris. Dalam pidato perdananya sebagai PM Inggris di Downing Street, Burnham mengatakan pengangkatannya adalah "momen untuk refleksi dan resolusi baru".
Dikutip dari BBC, Senin (20/7/2026), Burnham menyatakan, sebagai perdana menteri, ia akan memindahkan kekuasaan keluar dari Westminster dan mendistribusikannya ke "setiap wilayah di seluruh negeri agar masyarakat dapat berbuat lebih banyak."
Ia berjanji akan membangun perekonomian baru dengan mengembalikan "kebutuhan dasar ke bawah kendali publik" agar kembali terjangkau bagi masyarakat. Ia juga berkomitmen untuk melakukan reindustrialisasi Inggris dan mendukung industri dalam negeri.
Burnham menambahkan bahwa pada akhir tahun ini ia akan menyusun rencana 10 tahun untuk Inggris yang berisi arah dan tujuan yang ingin dicapai negara tersebut ke depan.
Dia juga mengatakan pemerintahannya akan mulai menyusun langkah-langkah untuk memberi masyarakat lebih banyak "ruang bernapas" dalam menghadapi tekanan biaya hidup, yang akan dimulai sejak besok. Ia juga akan menjelaskan sumber pendanaan untuk membiayai kebijakan tersebut.
Selama ini, Burnham membangun citra sebagai politikus yang akrab dan mudah didekati. Slogan "Vote Andy" pun membantunya meraih berbagai kemenangan dalam pemilu selama bertahun-tahun.
Ia juga menjadi perdana menteri pertama sejak Harold Wilson pada 1960-an dan 1970-an yang secara terbuka menjadikan identitasnya sebagai orang Inggris utara sebagai bagian dari citra politiknya.
Sejumlah perdana menteri setelah Wilson memang berasal dari Inggris utara. Namun, tak satu pun menjadikan asal-usul tersebut sebagai identitas politik sekuat Burnham.
Julukan "King of the North" melekat pada Burnham setelah ia berpidato di ruang terbuka pada 2020 dan menentang kebijakan pemerintah. Saat itu, ia menegaskan Greater Manchester menolak pembatasan tambahan terkait pandemi Covid-19.