Alasan FIFA ASEAN CUP 2026 bisa jadi milik Indonesia

September 2026 · 5 minute read

Alasan FIFA ASEAN CUP 2026 bisa jadi milik Indonesia

Kamis, 24 September 2026 15:53 WIB

Image Print

Sejumlah pesepak bola Timnas Indonesia mengikuti sesi latihan di Stadion Madya, Senayan. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/YU

Jakarta (ANTARA) - Tampil di kandang sendiri dan diperkuat para pemain yang berpengalaman bertanding dalam kompetisi level tinggi, semestinya menjadi modal kuat Indonesia untuk bersinar dalam FIFA ASEAN Cup 2026.

Turnamen ini resmi dimulai hari ini di Hong Kong melalui laga Laos melawan Brunei Darussalam serta Myanmar menghadapi Timor Leste di Divisi 2.

Berbeda dengan Piala ASEAN yang dulu disebut Piala AFF, turnamen ini membagi negara-negara ASEAN ke dalam dua divisi. Tim dengan peringkat FIFA rendah ditempatkan terpisah dari tim-tim papan atas.

Jika tim-tim berperingkat atas masuk Divisi 1, maka tim-tim berperingkat rendah masuk Divisi 2. Untuk itu, turnamen ini akan menghasilkan dua juara, yakni juara Divisi 1 dan juara Divisi 2.

Tuan rumahnya pun berbeda. Jika Divisi 1 diadakan di Indonesia, maka Divisi 2 digelar di Hong Kong.

Ada enam tim ASEAN di Divisi 1, dan lima tim ASEAN di Divisi 2.

Bangladesh dan Pakistan menjadi tim luar ASEAN yang diundang di Divisi 1, sedangkan satu-satunya tim undangan di Divisi 2 adalah tuan rumah Hong Kong.

Indonesia berada di Divisi 1 bersama Thailand, Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Singapura. Tim Garuda menempati Grup A bersama Malaysia, Singapura, dan Bangladesh.

Indonesia adalah tim dengan peringkat FIFA tertinggi di Grup A, yang bisa menjadi jaminan mencapai final guna menghadapi juara Grup B.

Uniknya, Grup B ditempati dua tim berperingkat tertinggi di ASEAN, yakni Thailand dan Vietnam. Mereka satu grup dengan Filipina dan Pakistan.

Ini situasi yang menguntungkan Indonesia, yang berperingkat 118.

Thailand yang berperingkat 94 dan Vietnam yang memiliki ranking 99 sudah harus saling menyingkirkan untuk berebut tiket final, bersama Filipina yang berperingkat 135 dan Pakistan yang berperingkat 198.

Bagi Indonesia, lawan terberat bagi tim asuhan John Herdman kemungkinan besar adalah Malaysia yang berada di peringkat ke-136.

Sementara itu, Singapura (peringkat 148) dan Bangladesh (peringkat 181) semestinya bisa diatasi dengan mudah oleh Kevin Diks dan kawan-kawan.

Lagi pula tim Indonesia kali ini sangat berbeda dengan tim yang gagal ke semifinal Piala AFF 2026. Komposisi timnas Indonesia kali sudah diperkuat para pemain yang bermain di kompetisi level tinggi Eropa, termasuk Kevin Diks, Emil Audero, Calvin Verdonk, dan Ole Romeny.

Walau tak diperkuat Jay Idzes yang cedera, kekuatan tim asuhan John Herdman kali ini akan lebih kuat dari pada tim yang dikalahkan 0-3 oleh Vietnam dan ditahan seri 1-1 oleh Singapura pada Piala AFF 2026.

Paling mahal

Walau berperingkat lebih rendah ketimbang Vietnam dan Thailand yang masing-masing menjadi juara dan runner up Piala AFF 2026, skuad Garuda pada edisi perdana FIFA ASEAN Cup seharusnya membuat gentar tim-tim lain.

Lihat saja dari nilai kapitalisasi timnas Indonesia dibandingkan dengan para peserta FIFA ASEAN Cup yang lain.

Dengan skuad berkapitalisasi pasar 21,59 juta euro (Rp648 miliar), Indonesia, berdasarkan transfermarkt, adalah kedelapan terbesar di Asia setelah Jepang, Korea Selatan, Uzbekistan, Australia, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Iran.

Jepang dan Korea Selatan menjadi dua tim Asia yang memiliki nilai pasar tiga digit, masing-masing 310 juta euro (Rp6,3 triliun) dan 146 juta euro (Rp2,9 triliun).

Indonesia juga di atas Yordania, Qatar, dan Irak, yang baru saja mengikuti Piala Dunia 2026.

Lebih jomplang lagi, kapitalisasi pasar Indonesia jauh di atas Thailand yang seharga 9,5 juta euro (Rp193 miliar) dan Vietnam yang bernilai 6,28 juta euro (Rp127 miliar), padahal mereka adalah dua tim dengan peringkat teratas dalam FIFA ASEAN Cup 2026.

Lalu apa hubungannya dengan nilai kapitalisasi pasar dengan kualitas tim?

Memang tak ada hubungan langsung, tapi nilai pasar dapat menggambarkan kualitas individu para pemain. Makin tinggi nilainya, makin baik pula indikator kualitas pemain dalam tim tersebut.

Tetap team work

Jika termasuk Idzes, Indonesia adalah satu-satunya peserta FIFA ASEAN Cup yang diperkuat para pemain yang bermain di empat dari lima liga top Eropa, yakni Liga Spanyol lewat Emil Audero di Rayo Vallecano, Kevin Diks di Liga Jerman bersama Borussia Munchengladbach, dan Calvin Verdonk di Liga Prancis bersama Lille.

Thailand hanya memiliki gelandang Nicholas Mickelson yang bermain untuk SV Elversberg di Liga Jerman, sedangkan skuad Vietnam semuanya berasal dari dalam negeri.

Indonesia masih mempunyai Maarten Paes yang menjadi kiper raksasa Liga Belanda yang pernah merajai Eropa, Ajax. Kemudian Dean James, Justin Hubner, Elkan Baggott, Nathan Tjoe-A-On, dan lainnya.

Skuad Garuda pun masih dihiasi para alumnus Liga Belanda yang kini berkompetisi di Super League, seperti Thom Haye, Ivar Jenner, dan Ragnar Oratmangoen. Kekuatan ini makin lengkap dengan kehadiran bakat-bakat lokal potensial seperti Rizky Ridho.

Banyak dari pemain-pemain ini pernah bermain bersama menghadapi tim-tim besar di Asia, termasuk Arab Saudi yang mereka kalahkan dalam kualifikasi Piala Dunia 2026 tahun lalu.

Namun, berkaca dari pengalaman Piala Dunia 2026, saat tim kecil seperti Tanjung Verde bisa menyulitkan Spanyol dan Argentina yang kemudian menjadu juara dan runner up Piala Dunia, Kevin Diks dkk. tak punya alasan untuk tidak waspada, termasuk terhadap lawan yang paling lemah sekalipun.

Team work tetap menjadi modal utama untuk membentuk skuad tangguh yang siap memenangi setiap laga.

Beruntung, Herdman juga tipe pelatih yang menitikberatkan kerja sama tim, persis seperti Shin Tae-yong yang pernah menangani sebagian besar pemain dalam skuad ini.

Filosofi kepelatihan Herdman luas diketahui berpusat pada membangun budaya tim dan semangat persaudaraan yang kuat, yang menekankan keseimbangan fisik, teknis, taktis, mental, dan bahkan emosi pemain.

Dari berbagai catatan yang ada mengenai karakter kepelatihannya, Herdman dikenal sangat menekankan pentingnya hubungan antarmanusia dan kolektivitas agar tim selalu solid dalam keadaan apa pun, termasuk saat menghadapi situasi sulit.

Dia juga mengutamakan kohesi tim dan menekankan tanggung jawab bersama sehingga semua pemain merasa dihargai, dilibatkan, dan siap berjuang demi tim.

Pendekatan inilah yang menjadi modal besar bagi Herdman untuk memoles potensi teknik luar biasa yang dimiliki skuad Indonesia.

Jika modal seperti itu dikelola dengan baik oleh Herdman, maka Indonesia berpeluang besar menjuarai turnamen yang menyediakan hadiah 1 juta dolar AS (Rp17,8 miliar) untuk tim juara Divisi 1.

Namun, hal yang jauh lebih penting adalah terbangunnya fondasi bagus untuk timnas Indonesia yang kuat nan solid yang siap berbicara banyak dan bahkan menaklukkan banyak tim kuat dalam kompetisi-kompetisi level atas.

Pewarta: Jafar M Sidik
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026