Penurunan permukaan tanah di Jakarta semakin mengkhawatirkan. Dikutip dari laman resmi Dinas Sumber Daya Air Pemprov DKI Jakarta, hasil pemantauan geodetik pada 255 titik GPS yang dilakukan pada 2023, rata-rata laju penurunan tanah di Jakarta tercatat sekitar 4 cm per tahun.
Fenomena ini menjadi salah satu tantangan serius yang dihadapi ibu kota karena berpotensi memicu berbagai persoalan lingkungan dan mengancam keberlanjutan sumber daya air.
Salah satu penyebab utama kondisi tersebut adalah pengambilan air tanah secara berlebihan. Praktik ini mengurangi kemampuan akuifer–lapisan batuan atau tanah yang menyimpan air–untuk menampung cadangan air. Akibatnya terjadi proses kompaksi, yakni penyusutan ruang penyimpanan air di bawah permukaan tanah sehingga tanah perlahan mengalami penurunan.
Tidak hanya itu, turunnya muka air tanah juga meningkatkan risiko pencemaran. Ketika permukaan air tanah semakin dalam, berbagai zat pencemar lebih mudah masuk dan meresap ke dalam sistem air tanah. Semakin besar penurunannya, semakin tinggi pula potensi kontaminasi yang dapat mengurangi kualitas air yang digunakan masyarakat.
Pengambilan air tanah secara masif juga mempercepat terjadinya tanah amblas (land subsidence). Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuka jalan bagi intrusi air laut ke dalam akuifer, terutama di wilayah pesisir Jakarta. Akibatnya, air tanah berubah menjadi payau dan tidak lagi layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, pengendalian penggunaan air tanah dan perluasan layanan air perpipaan menjadi langkah penting untuk menjaga ketersediaan air bersih sekaligus menekan laju penurunan permukaan tanah di Jakarta.
Pemerintah Provinsi DKI menargetkan seluruh warga Jakarta memperoleh akses air perpipaan pada 2029. Hingga Mei 2026, cakupan layanan air perpipaan di ibu kota telah mencapai 82,03%, meningkat pesat dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Percepatan tersebut terjadi setelah pengelolaan layanan air minum kembali berada di bawah PAM Jaya. Dalam tiga tahun terakhir, cakupan layanan bertambah 12,59%, melampaui penambahan sekitar 10,77% yang dicapai selama 25 tahun masa kerjasama dengan operator swasta. PAM Jaya bahkan mencatatkan rekor MURI setelah berhasil menyambungkan lebih dari 200 ribu rumah baru dalam satu tahun.
Direktur Utama PAM JAYA, Arief Nasrudin mengatakan, peningkatan tersebut merupakan hasil transformasi pengelolaan perusahaan yang didukung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
“Percepatan cakupan layanan dalam tiga tahun terakhir didorong transformasi pengelolaan air minum yang dilakukan langsung oleh PAM JAYA, didukung penugasan dari Pemprov DKI Jakarta, percepatan pembangunan infrastruktur air minum, optimalisasi aset eksisting, penambahan sambungan rumah, serta kolaborasi dengan berbagai mitra strategis untuk mempercepat investasi dan pengembangan SPAM,” ujar Arief kepada Katadata, Senin (20/7).
Fokus Perluasan ke Wilayah Minim Layanan
Kendati cakupan layanan terus meningkat, distribusi air perpipaan di Jakarta belum merata. PAM Jaya memprioritaskan perluasan jaringan pada 2026 di wilayah Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan sebagian Jakarta Utara yang tingkat layanannya masih relatif rendah.
Perusahaan juga menghadapi tantangan di kawasan padat penduduk, seperti Tambora dan sejumlah wilayah pesisir Jakarta. Kepadatan utilitas bawah tanah, keterbatasan ruang untuk pembangunan pipa, hingga jaringan lama yang perlu ditingkatkan membuat proses pembangunan membutuhkan waktu lebih panjang.
Untuk mendukung perluasan layanan, PAM Jaya terus meningkatkan kapasitas produksi air bersih. Salah satunya melalui beroperasinya Instalasi Pengolahan Air (IPA) Buaran III sejak Mei 2025 dengan kapasitas 3.000 liter per detik, yang mampu melayani sekitar 250 ribu sambungan rumah.
Selain itu, pembangunan IPA Pesanggrahan berkapasitas 750 liter per detik tengah berlangsung. PAM Jaya menyiapkan pembangunan IPA Condet dan IPA Semanan untuk memenuhi kebutuhan pasokan air mendatang.
Beralih ke Air Perpipaan, Warga Lebih Hemat
Perluasan jaringan mulai dirasakan manfaatnya oleh warga Kampung Kembang Lestari, Penjaringan, Jakarta Utara. Sebelum tersambung jaringan PAM Jaya, Irawati , salah seorang warga Kembang Lestari, mengandalkan air sumur yang kualitasnya kurang layak dan membeli air menggunakan gerobak.
Dalam seminggu, ulas Irawati, keluarganya harus membeli air sebanyak dua hingga tiga kali dengan harga sekitar Rp15 ribu - Rp20 ribu setiap gerobak.
“Dulu kami beli air pakai gerobak, kadang seminggu dua sampai tiga kali. Selain itu pakai air sumur yang warnanya hitam. Mau tidak mau tetap dipakai karena memang di sini susah air,” ungkapnya.
Hingga saat ini, sekitar 925 rumah di Kampung Kembang Lestari telah tersambung layanan PAM Jaya. Sementara sekitar 50 rumah lainnya, masih menunggu perluasan jaringan.
Perubahan juga dirasakan Sugiarti. Setelah menggunakan air perpipaan, tagihan air keluarga mereka turun dari sekitar Rp250 ribu menjadi sekitar Rp56 ribu per bulan. Besaran selisih biaya tersebut kini dapat dialihkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga lainnya.
“Yang tadinya sekitar Rp250 ribu, sekarang sekitar Rp56 ribu. Alhamdulillah ada sisaan uang, bisa buat beli ayam dan memperbaiki gizi keluarga,” kata Sugiarti.
Mengurangi Ketergantungan Air Tanah
Selain memperluas akses air bersih, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap semakin banyak warga meninggalkan penggunaan air tanah.
Arief menuturkan, pengurangan eksploitasi air tanah menjadi salah satu tujuan utama perluasan jaringan perpipaan lantaran berkaitan dengan upaya mengendalikan penurunan muka tanah yang masih menjadi tantangan di Jakarta.
“Semakin banyak warga yang beralih ke air perpipaan, semakin kecil eksploitasi air tanah sehingga dapat membantu mengendalikan penurunan muka tanah serta menjaga keberlanjutan sumber daya air di Jakarta,” harapnya.
Untuk mencapai target cakupan layanan 100 persen pada 2029, PAM JAYA akan melanjutkan pembangunan jaringan distribusi, menambahkan kapasitas produksi air bersih, serta menyiapkan skema creative financing yang sejalan dengan transformasi perusahaan menjadi Perseroda.