86 Kg Es Kering Dilempar ke Badai, Ini yang Terjadi Kemudian

July 2026 ยท 3 minute read

Jakarta -

Jauh sebelum teknologi satelit dan superkomputer membantu memprediksi cuaca, para ilmuwan Amerika Serikat pernah melakukan eksperimen yang kini terdengar nekat. Pada 1947, mereka menerbangkan pesawat ke tengah badai dan menjatuhkan sekitar 86 kilogram es kering (dry ice) ke dalamnya untuk melihat apakah badai bisa dilemahkan atau bahkan diubah arahnya.

Eksperimen tersebut merupakan bagian dari Project Cirrus, proyek kolaborasi General Electric (GE), Naval Research Laboratory, dan Army Signal Corps yang bertujuan menguji kemungkinan memodifikasi cuaca melalui teknik penyemaian awan (cloud seeding).

Ide itu berawal dari penemuan ahli kimia dan meteorologi Amerika, Vincent Schaefer, pada 1946. Ia menemukan bahwa es kering dapat memicu air yang berada di bawah titik beku tetapi belum membeku (supercooled water) berubah menjadi kristal es. Temuan itu memunculkan pertanyaan, apakah teknik serupa bisa diterapkan pada badai tropis?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kesempatan datang pada Oktober 1947 ketika Badai King bergerak meninggalkan Florida menuju Samudra Atlantik. Karena diperkirakan tidak akan lagi mengancam daratan, para peneliti menganggap badai tersebut sebagai objek uji yang ideal.

Sebuah pesawat pembom B-17 kemudian diterbangkan menuju badai dan menjatuhkan sekitar 86 kilogram es kering dari ketinggian sekitar 8.000 meter ke dekat pusat badai. Tujuannya, melihat apa yang akan terjadi.

Badai Berbelok, Bikin Warga Marah

Tak lama setelah penyemaian dilakukan, badai tampak melemah. Namun sehari kemudian kondisinya kembali menguat dan berbelok ke arah barat hingga menghantam negara bagian Georgia dan South Carolina, menyebabkan kerugian lebih dari USD 2 juta pada saat itu.

Perubahan arah badai memicu kemarahan masyarakat. Banyak yang menuding eksperimen tersebut sebagai penyebab badai berbalik arah dan menghantam daratan. Akibatnya, gugatan hukum pun diajukan terhadap proyek tersebut.

Namun, para meteorolog menolak tuduhan itu. Mereka menunjukkan bahwa badai lain pada 1906 dan bahkan badai yang terjadi sepekan sebelumnya pernah menempuh lintasan hampir identik. Dengan kata lain, perubahan arah Badai King kemungkinan memang sudah terjadi secara alami sebelum es kering dijatuhkan.

Meski tidak terbukti mengubah arah badai, para ilmuwan yang terlibat merasa eksperimen tersebut tetap menghasilkan perubahan pada struktur awan. Vincent Schaefer, yang ikut menyaksikan eksperimen dari salah satu pesawat, mengatakan penyemaian menghasilkan area awan salju dan hujan ringan yang sebelumnya tidak ada.

"Operasi penyemaian menghasilkan wilayah yang memperlihatkan hujan salju dan awan salju yang stabil dengan hujan ringan di daerah yang suhunya di atas titik beku. Awan salju itu menutupi area yang cukup luas dan mungkin bertahan cukup lama untuk memengaruhi awan superdingin lainnya," kata Schaefer seperti dikutip dari IFL Science, Kamis (16/7/2026).

Namun ia juga mengakui tim tidak berhasil mencapai inti badai karena keterbatasan peralatan navigasi saat itu. Akibatnya, mereka belum bisa memastikan apakah es kering benar-benar memengaruhi perilaku badai.

Di akhir eksperimen, para ilmuwan menyadari bahwa pengetahuan mereka tentang badai tropis ternyata masih sangat terbatas. Fisikawan peraih Nobel Irving Langmuir, yang juga terlibat dalam Project Cirrus, menyimpulkan bahwa eksperimen tersebut lebih banyak menghasilkan pertanyaan daripada jawaban.

"Hal utama yang kami pelajari dari penerbangan ini adalah bahwa masih sangat banyak hal tentang badai yang belum kami pahami," ujar Langmuir.

Project Cirrus akhirnya menghentikan eksperimen penyemaian badai setelah kontroversi tersebut. Meski demikian, upaya mempelajari cara memengaruhi cuaca terus berlanjut selama beberapa dekade berikutnya.

Kini, sebagian besar ilmuwan berpendapat bahwa energi badai tropis terlalu besar untuk diubah hanya dengan menjatuhkan es kering. Namun, eksperimen pada 1947 itu tetap dikenang sebagai salah satu percobaan paling berani, dan paling kontroversial, dalam sejarah penelitian cuaca.

(rns/fay)


TAGS

LIHAT LAINNYA