6.000 CEO Ungkap Fakta Tak Terduga, AI Ternyata Tak Berguna

August 2026 ยท 4 minute read

Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) ternyata belum memberikan dampak signifikan bagi dunia usaha. Berdasarkan hasil riset terhadap hampir 6.000 eksekutif perusahaan di Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Australia, mayoritas pimpinan perusahaan belum melihat adanya perubahan berarti, baik pada tingkat produktivitas maupun penyerapan tenaga kerja akibat penggunaan AI.

Mengutip laporan The Register, studi yang dilakukan oleh National Bureau of Economic Research (NBER) di Massachusetts ini melibatkan para CEO, CFO, serta eksekutif dari berbagai skala perusahaan di keempat negara tersebut.

Hasil survei menunjukkan bahwa lebih dari 80% responden tidak mendeteksi dampak yang jelas dari AI terhadap ketenagakerjaan maupun produktivitas perusahaan, demikian dikutip dari The Register, Senin (3/8/2026).

Tingkat Adopsi Tinggi, Dampak Riwayat Bisnis Masih Minim

Secara statistik, adopsi teknologi ini sebenarnya sudah cukup masif:

Adopsi AI yang paling umum dilakukan adalah untuk pembuatan teks menggunakan model bahasa besar (Large Language Models atau LLM), diikuti oleh pembuatan konten visual serta pemrosesan data menggunakan machine learning.

Kendati demikian, dampak nyata terhadap operasional bisnis dinilai masih sangat terbatas:

Proyeksi Masa Depan dan Ekspektasi Eksekutif

Kendati dampaknya saat ini masih minim, para eksekutif memperkirakan efektivitas AI akan mulai dirasakan dalam tiga tahun mendatang.

NBER memperkirakan penggunaan AI berpotensi mengurangi sekitar 1,75 juta pekerjaan di keempat negara tersebut pada tahun 2028 mendatang. Selain itu, para responden memproyeksikan AI dapat mendongkrak produktivitas bisnis sekitar 1,4% dalam tiga tahun ke depan. Menurut penulis studi, proyeksi ini mengindikasikan potensi pembalikan tren perlambatan pertumbuhan produktivitas jangka panjang di banyak negara maju.

Laporan tersebut juga mencatat adanya perbedaan sudut pandang antara karyawan dan eksekutif senior. Para pekerja umumnya cenderung memperkirakan AI justru akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja dalam tiga tahun ke depan, meskipun mereka memprediksi tingkat kenaikan produktivitas yang lebih kecil.

Bukti Nyata: Manfaat Komersial AI Belum Penuhi Ekspektasi

Temuan dari NBER ini semakin menambah daftar bukti bahwa manfaat komersial AI belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi pasar:

Di sisi lain, sejumlah petinggi teknologi tetap menyampaikan proyeksi yang agresif. Bulan ini, Kepala Microsoft AI Mustafa Suleyman mengklaim bahwa sebagian besar pekerjaan yang melibatkan aktivitas di depan komputer akan sepenuhnya diotomatisasi oleh AI dalam 12 hingga 18 bulan ke depan. Ia menyebut bidang akuntansi, hukum, pemasaran, dan manajemen proyek sebagai sektor yang paling berpotensi terdampak, sebagaimana dilaporkan oleh Fortune.

Sementara itu, Lenovo baru-baru ini mengklaim bahwa perusahaan di kawasan Eropa dan Timur Tengah justru mempercepat adopsi AI. Sebanyak 94% responden dalam survei mereka memperkirakan bakal memperoleh imbal hasil positif dari investasi AI, kendati semakin banyak riset independen menunjukkan hasil yang belum sesuai harapan.

Secara keseluruhan, berbagai temuan tersebut mengarah pada satu kesimpulan: implementasi AI saat ini kemungkinan besar baru memberikan peningkatan produktivitas yang sangat terbatas. Kondisi ini tampak kontras dengan gelontoran investasi bernilai ratusan miliar dolar yang terus digelontorkan oleh perusahaan-perusahaan teknologi raksasa demi mengembangkan sistem AI.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]