3 Alasan Maskapai Perketat Aturan Berat Bagasi Kabin

September 2026 ยท 3 minute read

Jakarta, CNN Indonesia --

Aturan bagasi kabin setiap maskapai kini semakin beragam. Selain dipengaruhi jenis pesawat dan kelas tiket, batas berat barang bawaan juga berkaitan dengan keselamatan penerbangan.

Perubahan aturan tersebut salah satunya terlihat di Australia. Mulai 2 Februari 2026, Virgin Australia membatasi penumpang kelas ekonomi untuk membawa satu tas kabin dengan berat maksimal 8 kilogram, ditambah satu barang pribadi yang dapat disimpan di bawah kursi.

Sementara itu, aturan yang diterapkan Qantas dan Jetstar berbeda. Qantas memperbolehkan beberapa kombinasi bagasi kabin dengan total berat maksimal 14 kilogram. Adapun Jetstar memberikan jatah bagasi kabin maksimal 7 kilogram yang dapat dibagi ke dalam dua barang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, mengapa maskapai memperketat aturan mengenai berat bagasi kabin? Mengutip The Independent, setidaknya ada tiga alasan yang mendasari kebijakan tersebut:

1. Setiap pesawat memiliki batas berat

Salah satu alasan maskapai memperketat aturan berat bagasi adalah faktor berat pesawat. Setiap pesawat memiliki batas maksimum berat yang diperbolehkan saat lepas landas. Perhitungannya mencakup berat pesawat, bahan bakar, makanan dan minuman, kargo, awak pesawat, penumpang, hingga bagasi.

Untuk pesawat berukuran besar, maskapai dapat menggunakan standar rata-rata berat penumpang sebagai bagian dari perhitungan tersebut. Di Australia, misalnya, standar berat penumpang dewasa yang digunakan untuk pesawat berkapasitas 150-299 kursi, seperti Boeing 737, adalah 81,8 kilogram untuk laki-laki dan 66,7 kilogram untuk perempuan.

Sementara itu, standar berat bagasi kabin ditetapkan sebesar 7 kilogram untuk setiap penumpang. Meski demikian, maskapai dapat mengajukan standar berat penumpang dan bagasi kabin sendiri kepada regulator, Civil Aviation Safety Authority (CASA). Jika disetujui, ketentuan yang berlaku dapat berbeda dari standar umum.

Pilihan Redaksi

2. Menjadi bagian dari strategi bisnis

Perbedaan aturan bagasi kabin juga tidak lepas dari perkembangan bisnis maskapai, terutama maskapai berbiaya rendah atau low-cost carrier. Maskapai jenis ini umumnya mengandalkan pendapatan tambahan dari berbagai layanan, mulai dari bagasi, makanan dan minuman, hingga akses Wi-Fi.

International Air Transport Association (IATA) memperkirakan pendapatan tambahan maskapai secara global mencapai US$144 miliar atau sekitar Rp2.539 triliun pada 2026. Karena itu, penumpang yang membawa bagasi melebihi batas yang ditentukan maskapai dapat dikenai biaya tambahan.

Aturan mengenai bagasi kabin pada akhirnya menjadi salah satu cara maskapai mengatur layanan sekaligus memperoleh pendapatan di luar harga tiket.

3. Berkaitan dengan keselamatan penerbangan

Alasan lainnya adalah keselamatan selama penerbangan. Barang bawaan yang terlalu banyak atau terlalu berat di kabin dapat memperlambat proses boarding.

Awak kabin juga perlu membantu penumpang menyimpan barang ke kompartemen atas. Selain memakan waktu, aktivitas tersebut dapat meningkatkan risiko cedera, terutama ketika harus mengangkat barang yang berat berulang kali.

Persoalan bagasi juga dapat menjadi lebih serius dalam kondisi darurat. Penumpang yang berusaha mengambil barang bawaannya dari kompartemen atas atau bawah kursi dapat memperlambat proses evakuasi.

Karena itu, membawa bagasi sesuai dengan batas yang ditetapkan maskapai bukan sekadar soal menghindari biaya tambahan. Kepatuhan terhadap aturan tersebut juga membantu proses boarding berjalan lebih lancar dan mendukung keselamatan seluruh penumpang serta awak kabin.

Sebelum terbang, penumpang sebaiknya selalu memeriksa ketentuan bagasi maskapai yang digunakan. Sebab, batas berat dan jumlah barang yang diperbolehkan dapat berbeda, bahkan untuk rute atau jenis tiket yang berbeda.

(dsd/tis)