2 Pengusaha RI Sering Bolak-Balik ke Gunung Kawi Jadi Konglomerat

July 2026 ยท 4 minute read

Jakarta, CNBC Indonesia - Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, sejak lama dikenal sebagai salah satu tempat ziarah yang dipercaya sebagian masyarakat dapat membawa keberuntungan, termasuk dalam urusan usaha. Kepercayaan tersebut membuat kawasan ini kerap didatangi para pebisnis yang berharap memperoleh petunjuk sebelum mengambil keputusan penting.

Dalam catatan sejarah, setidaknya ada dua pengusaha besar Indonesia yang diketahui rutin mendatangi Gunung Kawi. Mereka adalah pendiri Bentoel Ong Hok Liong dan pendiri Salim Group, Liem Sioe Liong atau Salim. Keduanya memiliki cerita berbeda, tetapi sama-sama dikaitkan dengan keyakinan terhadap petunjuk yang diperoleh dari Gunung Kawi.

1. Ong Hok Liong

Sejarawan George Quinn dalam buku Wali Berandal Tanah Jawa (2021) mencatat Ong Hok Liong merupakan salah satu pengusaha yang rajin berziarah ke Gunung Kawi.

"Ong rajin berkunjung ke Gunung Kawi yang di dekat Malang untuk memohon kepada Eyang Jugo dan Iman Soedjono agar bisnisnya sukses," tulis George Quinn.

Salah satu kunjungannya sekitar 1954 kemudian menjadi kisah yang paling dikenal. Saat berziarah, Ong tertidur di dekat makam dan bermimpi melihat bongkahan ubi talas. Setelah terbangun, dia menanyakan arti mimpinya kepada juru kunci makam.

Menurut penuturan sang juru kunci, mimpi tersebut merupakan petunjuk dari Eyang Jugo agar Ong mengganti nama pabrik sekaligus merek rokoknya yang saat itu belum berkembang. Eyang Jugo sendiri merupakan tokoh yang dimakamkan di kawasan Gunung Kawi dan dikeramatkan oleh sebagian masyarakat karena dipercaya memiliki kesaktian.

Saat itu, Ong masih mengelola pabrik rokok bernama Strootjes-Fabriek Ong Hok Liong yang penjualannya tidak begitu baik. Atas tafsir mimpi tersebut, dia kemudian mengganti nama perusahaan dan merek rokoknya menjadi Bentoel, sebutan masyarakat Malang untuk ubi talas yang muncul dalam mimpinya.

Percaya atau tidak, keputusan itu menjadi titik balik perjalanan bisnisnya. Setelah menggunakan nama Bentoel, penjualan rokok terus meningkat. Perusahaan berkembang pesat hingga mempekerjakan sekitar 3.000 karyawan sebelum 1960 dan menjelma menjadi salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia.

"Di negara yang dari dulu sampai sekarang sebagian besar penduduk laki-lakinya kecanduan rokok, Bentoel mendatangkan kekayaan sangat besar untuk Ong Hok Liong. Ketika meninggal dunia pada 1967, Ong adalah seorang multi-jutawan," ungkap Quinn.

2. Liem Sioe Liong (Salim)

Kepercayaan terhadap Gunung Kawi juga dimiliki pendiri Salim Group, Liem Sioe Liong. Dalam buku Liem Sioe Liong dan Salim Group: Pilar Bisnis Soeharto (2016), Richard Borsuk dan Nancy Chng mengungkap Salim rutin bolak-balik Surabaya-Gunung Kawi hingga tiga sampai lima kali setiap tahun.

Setiap kali hendak memulai bisnis besar, dia berdiam diri di kuil China di kawasan Gunung Kawi untuk meminta petunjuk kepada peramal dan menjalankan sejumlah ritual.

"Di kuil-kuil tempat dia bersembahyang, Liem sering mengandalkan cara-cara gaib untuk membantunya memutuskan langkah apa yang harus diambil. Salah satu cara yang biasa dipakai adalah menggoyang-goyangkan tabung bambu berisi lidi-lidi dengan tulisan tertentu sampai sebatang lidi keluar, tulisan di lidi itu lalu dibaca dan ditafsirkan oleh rahib atau peramal," tulis Richard Borsuk dan Nancy Chng.

Salah satu kisah yang paling dikenal berkaitan dengan penunjukan Mochtar Riady untuk mengembangkan Bank Central Asia (BCA). Menurut Richard dan Nancy, keputusan tersebut juga dipengaruhi keyakinan yang diperoleh Salim setelah menemui peramal di Gunung Kawi.

"Sekembalinya dari Gunung Kawi [menemui peramal], dengan keyakinan dia berkata kalau 'aku akan menjadi Tang Sheng untuk Mohctar'," tulis keduanya.

Di tangan Mochtar Riady, BCA kemudian berkembang menjadi bank swasta terbesar di Indonesia sejak dekade 1980-an hingga sekarang.

Selain itu, Salim juga dikenal mempercayai feng shui dalam menentukan langkah bisnis. Pada 1968, ketika memulai kerja sama dengan kelompok konglomerat yang dikenal sebagai Gang of Four bersama Sudwikatmono, Djuhar Sutanto, dan Ibrahim Risjad, dia bersikeras menggunakan sebuah ruangan kecil yang hanya berisi satu telepon, satu meja, dan dua kursi karena dianggap memiliki feng shui yang baik.

Terlepas dari benar atau tidaknya kepercayaan tersebut, kisah Ong Hok Liong dan Liem Sioe Liong menunjukkan Gunung Kawi telah lama menjadi bagian dari cerita perjalanan sejumlah pengusaha besar Indonesia. Keduanya kemudian membangun kerajaan bisnis yang berkembang menjadi kelompok usaha bernilai miliaran dolar dan meninggalkan jejak penting dalam sejarah bisnis nasional.

(mfa/wur)

Add

as a preferred
source on Google