11 nyawa yatim piatu selamat tatkala kobaran melalap hutan - ANTARA News Kalimantan Timur

September 2026 · 7 minute read

Samarinda (ANTARA) - Asap melayang di ufuk timur Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, diikuti hembusan angin kencang yang membawa pesan bahaya dari batas lahan.

Di tengah belukar dan pepohonan hijau yang membentang seluas 3.500 hektare ini, terdapat ruang seluas 130 hektare sebagai Sekolah Hutan, tempat bagi 11 orangutan yatim piatu belajar menjalani kehidupan.

Di sinilah mereka belajar kembali menjadi diri sendiri; menyusuri ranting, memetik buah, dan memanjat hingga ke kanopi, merangkai harapan demi masa depan yang bebas.

Namun pada 1 September 2026, api datang lebih cepat dari dugaan, menguji kesigapan setiap insan yang memegang teguh janji perlindungan.

Kisah tentang api yang melalap belantara Kaltim saat musim kemarau panjang akibat El Nino bukanlah hal baru. Namun kali ini, di pinggiran Areal Penggunaan Lain (APL) yang berbatasan langsung dengan kawasan rehabilitasi, kobaran membumbung menjadi raksasa merah yang melompati batas. Api mengancam kerja keras yang telah dirangkai dengan sabar selama bertahun-tahun.

Di balik gumpalan asap dan lidah api yang menjilat cepat, yang terbayang bukan sekadar pohon yang hangus, melainkan masa depan 11 orangutan yang belum sepenuhnya pulih dari duka kehilangan keluarga dan rumah pertama mereka.

Beruntung, kesiapsiagaan yang dipupuk sejak El Nino diprediksi bakal berkepanjangan terbukti menjadi benteng yang nyata.

Pukul 16.00 WITA, saat status darurat dikumandangkan, kolaborasi antarlembaga —Yayasan Jejak Pulang, BKSDA Kalimantan Timur, Manggala Agni, dan Wildlife Rescue Unit (WRU)— menyatu menjadi penopang yang kokoh.

Kurang dari dua jam kemudian, seluruh orangutan yang terancam berhasil dievakuasi ke tempat aman. Api akhirnya padam menjelang senja; menyisakan duka di tanah yang hangus, tetapi membiarkan nyawa-nyawa berharga itu tetap bernapas.

Ini adalah kisah tentang kesiapsiagaan yang lahir dari kepedulian mendalam. Bukan sekadar rencana di atas kertas, melainkan wujud cinta yang siap berjuang kapan pun panggilan itu tiba. Kisah tentang bagaimana saat hutan terguncang bahaya, harapan justru berdiri tegak, tak menyerah pada angin maupun kobaran.

Kesigapan tangkas

Pagi menjelang siang, patroli rutin tiga kali sehari masih mencatat ketenangan. Hutan bernapas lega, tak ada tanda bahaya yang mengancam dari dekat.

Namun sekitar pukul 12.30, mata tim pengawas menangkap kepulan asap yang mulai menjulang dari APL yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung.

Angin kencang seketika mempercepat bahaya; kobaran yang mulanya kecil membumbung menjadi barisan merah yang ganas, melahap segala upaya pemadaman sebelum bantuan tiba.

Pukul empat sore, garis batas tak lagi mampu menahan. Api melompati penghalang dan memasuki Sekolah Hutan, ruang bermain, ruang belajar, sekaligus tempat pemulihan bagi 11 orangutan yang belum lama menemukan tempat bernaung.

Tak ada waktu untuk ragu. Perintah evakuasi seketika bergema. Para penjaga yang sejak pagi disiagakan di dekat tepi sungai —jalur air sejuk yang direncanakan sebagai rute aman— segera bergerak tenang namun cepat.

Satu demi satu, 11 nyawa diselamatkan dari pepohonan yang mulai dihinggapi bahaya. Mereka diusung menuju kendaraan yang bersiap, menyusuri rute penyelamatan yang telah dipetakan jauh hari sebelumnya.

“Kesiapsiagaan ini sebenarnya sudah dilakukan sejak bulan Juni. Kami sudah berkolaborasi untuk mengantisipasi El Nino yang diprediksi sangat panjang. Ini diantisipasi sejak 16 Juni, dan terbukti kita bisa melaluinya," ujar Rahmat Novirsal, General Manager Yayasan Jejak Pulang.

Pernyataan itu menegaskan bahwa keselamatan tak lahir dari keberuntungan, melainkan dari kepedulian yang memperhitungkan masa depan. Ketika bahaya akhirnya datang, rencana yang disusun berbulan-bulan menjelma menjadi jalan penyelamatan nyata.

Berkat kolaborasi erat bersama WRU dan BKSDA Kaltim yang menyokong personel serta kendaraan, seluruh proses berjalan selaras. Menjelang pukul 18.00, kesebelas orangutan tiba di Kandang Evakuasi Kilometer 38 Samboja dalam kondisi selamat dan utuh, meski harus beradaptasi kembali dengan lingkungan baru.

Tak lama berselang, Manggala Agni berhasil menaklukkan kobaran api hingga padam sepenuhnya pada pukul 18.30. Bahaya pun resmi berlalu berkat kesigapan yang tangkas.

Dua ruang

Sekolah Hutan seluas 130 hektare adalah dunia tempat mereka belajar kembali arti menjadi orangutan. Di sana, kanopi saling bersambung, ranting diayunkan, buah musiman dicari sendiri, dan sungai jernih mengalir menyejukkan.

Di ruang yang luas dan terbuka itu, alam menjadi guru terbesar dalam perjalanan pemulihan mereka. Namun kini, demi keselamatan, mereka harus berpindah ke ruang yang jauh lebih sempit: kandang evakuasi yang aman, tetapi tak menyediakan ketinggian pohon maupun luasnya pandangan ke arah belantara.

Perubahan itu tak berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak di jiwa mereka. Tanpa daun rimbun yang menaungi teriknya matahari, tanpa kesempatan melompat membelah udara antardahan, dan tanpa pakan yang harus dicari jauh di balik semak, kebosanan pun perlahan hadir.

Mata yang biasa menatap keasrian hijau kini kerap membentur batas. Tubuh yang biasa bergerak lincah ke segala arah kini terkurung dalam ruang gerak yang terbatas.

Namun, tim perawat tak tinggal diam. Jika alam belum bisa dihadirkan seutuhnya, mereka menciptakan kemiripannya. Tali-tali digantung tinggi untuk melatih kekuatan tangan, susunan kayu dibuat meniru cabang pohon tempat bertengger, dan pakan disembunyikan agar mereka tetap berpikir serta mencari, menjaga nyala semangat di dalam diri.

Di hutan, mereka bisa mengayun antarkanopi menggunakan liana dan bermain bebas bersama kawan. Di dalam kandang, mereka memang mendapat perawatan maksimal dari manusia, tetapi tentu itu tak pernah cukup.

"Proses rehabilitasi tidak terganggu karena kami tetap memberikan pengayaan untuk menstimulasi kognisi dan fisik mereka," tutur Siti Nur Badriyah, Head of Orangutan Care Yayasan Jejak Pulang.

Ada kesadaran tulus di balik ucapan itu: tak ada pengganti sejati selain hutan itu sendiri. Selama pintu menuju rumah belum kembali terbuka, kasih sayang dan ketekunanlah yang menjadi jembatan penopangnya.

Semua dilakukan untuk memastikan bahwa meski ruang menyempit, kesempatan untuk tumbuh dan menjadi diri sendiri tak boleh hilang sedikit pun. Mereka tidak sedang ditahan; mereka sedang dijaga agar tetap hidup utuh sejiwanya, menanti hari saat alam kembali memanggil pulang.

Pantauan tak putus

Setelah bahaya api berlalu, penjagaan tak lantas berakhir. Di sinilah fase yang tenang namun teliti dimulai: memastikan tak ada demam yang muncul, tak ada batuk akibat paparan asap, serta tak ada perubahan perilaku sekecil apa pun yang luput dari perhatian.

Observasi diperpanjang melebihi pemantauan harian biasa. Setiap pergerakan diamati, pola makan dicatat, dan kondisi pernapasan dipantau saksama, sebuah kesabaran yang lahir dari tanggung jawab besar atas 11 nyawa yang dipercayakan.

Hingga kini, mereka tetap sehat tanpa menunjukkan gejala yang merisaukan. Tubuh mereka terbukti tangguh meski baru saja melewati masa kritis.

Kondisi ini bukan sekadar kebetulan, melainkan buah dari langkah evakuasi yang cepat dan tepat waktu menjauhkan mereka dari asap tebal sebelum merusak paru-paru, serta pemantauan berkelanjutan yang tak pernah lengah.

"Kondisi 11 orangutan di Yayasan Jejak Pulang saat ini baik dan normal. Kami masih melakukan observasi, dan hingga kini belum ada tanda-tanda gejala flu atau dampak lain akibat karhutla," tutur drh. Tetri Regilya, Dokter Hewan Yayasan Jejak Pulang.

Dari tingkat tapak hingga pembuat kebijakan, benang merah kesepahaman terjalin erat. Keputusan menyelamatkan kesebelas jiwa tersebut disepakati sebagai prioritas utama. Bukan hanya karena status mereka sebagai satwa dilindungi, melainkan karena perjuangan panjang mereka untuk pulih dari masa lalu tak boleh sia-sia.

Setiap pemeriksaan yang teliti dan catatan perkembangan harian menjadi bukti bahwa keselamatan yang telah diraih harus terus dijaga.

"Dari hasil pemeriksaan, 11 orangutan dalam kondisi sehat dan aman. Walau ada keterbatasan sarana, pemantauan tetap dilakukan secara ketat oleh tim medis, animal keeper, dan BKSDA Kaltim," ungkap M. Ari Wibawanto, Kepala BKSDA Kaltim.

Kini api telah padam, tetapi pelajaran yang ditinggalkan tetap menyala terang: hutan bisa terancam bahaya kapan saja, terutama saat iklim tak lagi bersahabat.

Keselamatan satwa bergantung sepenuhnya pada sejauh mana manusia mampu melihat ke depan. Bukan menunggu api datang baru bergerak, melainkan bersiap bahkan saat matahari masih bersinar tenang di atas kanopi.

Di balik keberhasilan ini, terdapat kerja sama tulus antarlembaga yang saling melengkapi tanpa memedulikan siapa yang paling depan.

Suatu hari nanti, ketika vegetasi kembali menghijau di tanah yang sempat hangus dan udara kembali jernih, pintu Sekolah Hutan akan terbuka lebar.

Kesebelas orangutan itu akan melangkah keluar, kembali ke pelukan rimbun pepohonan, serta berayun di antara dahan tanpa rasa cemas.

Saat hari itu tiba, mereka seolah menegaskan bahwa mereka pernah diuji, tetapi tidak pernah sendirian. Sebab ketika api datang mengancam, kasih sayang dan kesiapsiagaanlah yang akhirnya menang, memastikan hutan tetap menjadi rumah yang terjaga.

Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.